[Oneshoot] My Source Of Life

PicsArt_1420197337046

Romance, Oneshoot

—————–

Taman itu memang tidak pernah sepi, terlebih di sore hari seperti ini. Banyak pasangan kekasih yang senang mengumbar kemesraan seakan dunia ini hanya milik mereka, segelintir manula yang lebih memilih menghirup udara segar untuk memperpanjang hidup, atau sekedar pejalan kaki yang yang mengesampingkan tujuan utama mereka selama beberapa saat untuk menikamti keindahan taman ini. Namun sebenarnya, presentasi banyaknya pengunjung di taman ini adalah anak-anak.

Setiap sore, taman itu selalu dihiasi tawa, teriakan, pekikan, ocehan, atau bahkan tangisan anak-anak yang sedang asyik menikmati dunia masa kecil mereka dengan, atau tanpa pengawasan orang tua masing-masing. Tak terkecuali tiga anak kecil – dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang berada agak menjauh dari tempat bermain anak-anak kebanyakan dan asyik dengan dunia mereka sendiri.

“Minran, lihat aku menemukan bunga. Kurasa cocok untukmu,” kata salah satu bocah laki-laki kepada bocah perempuan di sampingnya.

“Wah, cantik. Apa benar cocok untukku?” Tanya Minran sambil menerima bunga berwarna merah yang dimaksud.

Tanpa berkata-kata, si bocah laki-laki meraih kembali bunga itu dari genggaman Minran, lalu menyelipkannya di sela telinga bocah perempuan yang terlihat bahagia itu.

“Nah, benarkan? Kau terlihat cantik sekarang,” ujar si bocah laki-laki yang dibalas senyuman malu-malu dari Minran.

Bocah laki-laki lainnya yang sedari tadi menonton kelakuan dua sahabatnya yang lebih muda setahun darinya dengan tak berminat, memutuskan untuk angkat bicara juga.

“Apa yang kau lakukan Minhyuk-ah… kau membuatnya tampak seperti semak-semak. Bunga itu pas sekali dengan baju hijaunya. Hahahahaha Aw!” ucapan – atau lebih tepatnya ejekan yang di lontarkan bocah itu berakhir dengn ringisan kesakitan saat merasakan ada sesuatu yang mendarat di keningnya dengan cukup keras.

Dan benda sialan itu bisa dipastikan merupakan salah satu sandal ungu milik Minran, karena bocah itu kini tengah berdiri hanya dengan satu buah sandal.

“Dasar Cho Kyuhyun jelek!” Seru Minran.

“Hei, seharusnya kau memanggilku Oppa. Aku kan setahun lebih tua darimu,” sahut Kyuhyun tak terima.

Selanjutnya, terjadilah kejar-kejaran antara dua bocah itu dan sesekali diselingi dengan saling lempar sandal. Tidak mengherankan. Memang selalu begitu akhirnya jika ketiga sahabat itu berkumpul.

*****

“Aku telah menyukaimu sejak lama. Apa kau mau menerimaku sebagai kekasihmu?”

“Eh?” gadis itu menoleh cepat mendengat perkataan pria di sampingnya. “A-apa katamu tadi?”

“Itu adalah kata-kata yang telah kupersiapkan semalaman untuk menyatakan cintaku pada Kim Hana hari ini. Bagaimana menurutmu?” ujar si pria menatap gadis itu dengan tatapan antusias.

“Ehmm… ya, itu bagus. Kurasa Hana senang mendengarnya,” jawab gadis itu seadanya dengan senyum yang terlalu jelas dibuat-buat. Mendadak ia merasa… sakit? Kecewa? Entahlah, yang jelas ia merasa buruk sekarang. Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini Minran selalu memiliki perasaan aneh setiap berada di sekat pria yang kini berada di dekatnya, Kang Minhyuk.

Setiap berada di dekat pria itu, Minran selalu merasa sangat bahagia, sekaligus berdebar-debar di saat yang bersamaan. Pipinya akan berubah kemerahan jika kulitnya menyentuh kulit Minhyuk sedikti saja. Padahal dulu, berpelukan pun tidak masalah.

“Itu artinya, kau mulai memandang Minhyuk sebagai laki-laki,” ucap Eunji dengan wajah serius saat Minran meceritakan hal tersebut pada teman sebangkunya itu.

“Tentu saja, dari dulu memang selalu begitu. Dia kan laki-laki, jadi mana mungkin aku memandangnya sabagai seorang perempuan.”

BLETAK!

“Aw! Kenapa kau memukulku?” keluh Minran sambil mengusap keningnya yang berdenyut nyeri.

“Bukan itu yang kumaksudkan, Minran bodoh. Maksudku, kau mulai menyukai Minhyuk bukan lagi sebagai seorang sahabat, melainkan menyukainya sebagai pria dan wanita,” jelas Eunji dengan semangat.

Minran tertegun mengingat percakapannya dengan Eunji beberapa waktu lalu itu. Benarkah? Benarkah ia menyukai Minhyuk? Benarkah ia telah memandang Minhyuk sebagai seorang lelaki? Benarkah ia menginginkan Minhyuk? Tetapi Minhyuk menyukai orang lain. Jadi… apa yang harus ia lakukan?

Pikirannya yang melayang kemana-mana tersadar kembali saat mendengar suara langkah kaki di dekatnya.

“Ah, kau sudah datang hyung,” ucap Minhyuk dibarengi dengan berhentinya langkah kaki milik seorang pria. “Bagaimana kelasmu?”

“Seperti biasa, membosankan,” jawab pria itu datar. Tanpa berpaling pun, Minran tahu persis pemilik suara berat itu. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun?

“Ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan?” Tanya Kyuhyun sekedar basa-basi, karena sejujurnya ia sama sekali tidak tertarik apapun jawaban yang terlontar nanti. Tidak, ia tidak pernah ingin tahu apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya saat sedang berdua. Jadi, dia sempat merutuki mulut bodohnya yang melontarkan pertanyaan terkutuk itu.

“Aku sedang meminta pendapat Minran mengenai kata-kata yang akan kugunakan untuk menyatakan cinta pada Hana nanti,” jawab Minhyuk dengan sangat antusias. Perkataan itu sukses membuat Kyuhyun kaget setengah mati. Ia melirik kepada Minran dengan tatapan… khawatir.

“Kau mau mendegar kata-kata itu? Kau bisa memberi pendapat juga.”

“Ah tidak, tidak. Kau tentu tak ingin membuatku mual,” kata Kyuhyun dengan cepat. Ia memang paling anti dengan kata-kata manis yang melibatkan perasaan dan gombalan menjijikan yang biasa diucapkan antara pria dan wanita.

“Biarkan saja Minhyuk-ah. Kyuhyun kita ini memang tidak punya perasaan,” sergah Minran sambil tersenyum geli. Senyuman yang terlihat sangat palsu di mata Kyuhyun.

“Ck, setidaknya banyak gadis cantik yang mengantri untuk mendapatkanku di luar sana,” balas Kyuhyun yang hanya mendapat cibiran dari Minran.

“Jadi kau benar-benar akan menyatakan cinta pada Hana hari ini?” Tanya Kyuhyun memastikan.

“Yap, tepatnya sore ini. Dan… ehmm…” Minhyuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum malu menyebabkan dua orang dihadapannya memandangnya penasaran.

“Sebenarnya, aku akan merasa sangat gugup jika hanya berduaan dengan Hana nanti. Apalagi aku harus menyatakan cinta padanya. Jadi, yang aku ingin katakana adalah… tolong temani aku sore ini. Anggap saja kalian akan menjadi saksi, apapun hasilnya nanti.”

Kyuhyun terdiam. Begitupun dengan Minran yang masih terlalu syok dengan perkataan Minhyuk barusan. Kyuhyun benar-benar tahu bagaimana perasaan Minran terhadap Minhyuk meskipun gadis itu tak mengatakannya secara langsung. Hal itu terlihat jelas dari cara Minran menatap Minhyuk dan reaksinya saat berdakatan dengan pria itu. Gadis itu dari dulu memang tidak pernah bisa menyembunyikan perasaanya, Minhyuklah yang terlalu terpaku pada Hananya sehingga tak menyadari persaan Minran yang diperlihatkan gadis itu secara terang-terangan.

Dan lihat saja, Minhyuk bahkan meminta mereka menyaksikan drama romantis antara ia dan gadis pujaannya. Kyuhyun tahu, sebodoh-bodohnya Minran, ia tidak cukup bodoh untuk menerima ajakan Minhyuk. Melihat pria yang dicintainya menyatakan cinta pada gadis lain dengan mata kepala sendiri? Hah,  yang benar saja!

“Tidak, akau tidak bisa. Masih ada bertumpuk-tumpuk DVD game yang menunggu untuk segera kumainkan,” jawab Kyuhyun santai.

Minhyuk terlihat agak kecewa mendengarnya. Matanya beralih menatap Minran, mengharapkan jawaban yang lebih baik. Kyuhyun juga ikut menatap gadis itu, ikut berharap bahwa bukan jawaban gila yang akan terlontar dari mulut Minran.

Sementar itu, gadis yang sedang ditatap memasang raut wajah ragu-ragu. Ia tahu, sangat salah menerima tawaran Minhyuk. Tetapi, ia juga tidak tega untuk membiarkan pria itu – pria yang dicintainya berjuang sendiri. Tidak, bukankah mereka… sahabat? Minran menarik nafas panjang guna memantapkan hatinya.

“Baiklah, aku mau.”

*****

Kyuhyun mondar-mandir di kamarnya dengan perasaan luar biasa gusar. Entah sudah berapa lama ia melakukan hal ini. Wajahnya kusut, dan air mukanya terlihat sangat mengerikan.

“Bodoh,” gumamnya entah kepada siapa. Kepada Minhyuk yang tanpa persaan mengajukan ajakan gila? Kepada Minran yang secara tidak masuk akal mau menerima ajakan Minhyuk? Atau kepada dirinya sendiri yang tida bisa mencegah semua kejadian ini? Mengingatnya saja sudah membuat emosi Kyuhyun semakin tak terkendali. Ia menendang kaki ranjang berkali-kali tanpa mempedulikan nyeri yang di dapat pada ujung kakinya.

Kyuhyun melirik jam yang terpasang di dinding kamarnya. Pukul 16.15, 15 menit sebelum waktu yang dijanjikan Minhyuk di café yang berjarak 10 menit jika ditempuh sambil berjalan kaki dari rumahnya. Minran pasti sedang bersiap-siap sekarang. Tanpa berpikir panjang, Kyuhyun segera meraih jaketnya dan berlari menuju rumah di samping rumahnya, rumah Minran. Ia tidak boleh membiarkan Minran melihat pemandangan menyakitkan itu.

Berlebihan? Tidak, Kyuhyun sudah berjanji akan melakukan apapun untuk melindungi gadis yang dicintainya. Benar, dicintainya. Dan gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Minran. Kyuhyun telah menyukainya jauh sebelum perasaan Minran terhadap Minhyuk muncul. Tepatnya ia telah menyukai gadis itu sejak mereka masih kecil.  Di usia sekecil itu, Kyuhyun telah menyadari ketertarikannya pada Minran, meski saat itu ia tidak begitu mengerti tentang perasaannya.

Akan tatapi, kemampuan Kyuhyun untuk menyembunyikan perasaannya sangat jauh di atas Minran sehingga gadis itu hingga kini tidak menyadarinya. Bagaimana tidak? Kyuhyun  selalu bersikap cuek di hadapan Minran. Pekerjaannya sehari-hari adalah menjahili gadis itu dan mengejeknya habis-habisan sehingga membuat Minran kesal. Tetapi gadis itu bukan gadis lemah yang akan langsung menangis. Justru, ia akan membalas semua perbuatan Kyuhyun sehingga tak jarang terjadi perkelahian antara mereka. Hanya sementara, setelah itu mereka akan kembali berbaikan seperti semula.

Penyebabnya adalah Minhyuk. Minhyuklah yang selalu menjadi penengah di antara mereka. Meskpun Minhyuk lebih muda darinya, tapi bisa dibilang pemikiran Minhyuk lebih dewasa jika dibandingkan dengan Kyuhyun. Minhyuk merupakan pria baik dan sangat sopan. Ia sangat perhatian pada lingkungannya, termasuk Minran yang sejatinya merupakan sahabatnya sejak kecil. Dan Kyuhyun rasa perhatian itulah yang membuat Minran menyukainya.

Langkah Kyuhyun terhenti saat matanya menangkap punggung Minran yang semakin menjauh darinya. Dengan emosi yang semakin menjadi-jadi, Kyuhyun berlari menuju tempat Minran berada dan langsung menarik gadis itu ke arah yang berlawanan.

*****

Minran membaringkan tubuhnya di kasur kesayangannya yang ia sebut sebagai ‘surga’. Kemudian, ia terduduk lagi dan kemudian bebaring lagi. Itulah yang ia lakukan sejak sekitar setengah jam lalu, sejak kepulangannya dari kampus bersama Kyuhyun. Ya, hanya dengan Kyuhyun karena Minhyuk sedang menjemput Kim Hana di rumahnya. Ah, memikirkannya membuat Minran semakin pusing saja.

Ia sendiri tidak tahu keputusannya ini benar atau tidak. Rasanya terlalu sakit jika ia harus menyaksikan sendiri Minhyuk menyatakan cinta kepada Kim Hana. Apa yang harus dilakukannya nanti? Berpura-pura senang dan memberi selamat? Lalu, bagaimana reaksinya? Bagaimana jika ia tidak dapat mengendalikan emosi dan menangis di hadapan mereka? Minran menggelengkan kepalnya kuat-kuat saat membayangkan kemungkinan terakhir. Tentu saja itu tidak boleh terjadi. Mau ditaruh dimana wajahnya kalau benar begitu kejadiannya. Tapi ia juga tidak bisa mundur. Ia telah berjanji pada Minhyuk dan tak ingin membuat pria itu kecewa.

Tiba-tiba saja, butiran bening jatuh dari pelupuk matanya dan membasahi pipi mulusnya. Minran mendadak merasa sesak dan sedih mengingat ia tidak akan pernah memiliki Minhyuk. Pria itu sudah memiliki gadisnya sendiri. Ia merasa bodoh sekarang. Ia merasa bodoh karena menyukai pria yang sama sekali tidak memiliki perasaan terhadapnya. Dan sialnya, pria itu adalah sahabatnya sendiri.

Dengan lesu, Minran bangkit dari kasurnya, mengganti bajunya, mengambil beberapa lembar uang, dan pergi café tempat mereka janji bertemu.

“Mau kemana?” Tanya ibunya saat Minran melewati ruang tamu.

“Ke café biasa, bertemu Minhyuk dan… temannya,” jawab Minran.

“Oh, Kyuhyun tidak ikut?” Tanya Ibunya lagi. Orang tua mereka memang juga sama dekatnya dengan mereka, jadi Ibu Minran mengenal baik Kyuhyuh dan Minhyuk, begitupun sebaliknya. Apalagi, mereka bertetangga. Rumah Kyuhyun dan Minran bersebelahan, sementara rumah Minhyuk berada tepat di depan rumah Kyuhyun.

“Tidak, dia sedang berkencan dengan video gamenya,” ujar Minran seenaknya.

“Ah, aku harus pergi sekarang,” lanjut Minran pura-pura terburu-buru, karena sejujurnya ia malas menjawab berbagai pertanyaan ibunya yang akan terus megalir seperti air kran.

Minran mulai melangkah menuju café di depan jalan, tempat pertemuannya dengan Minhyuk dan Kim Hana. Namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba ada seseorang yang mencengkram tangannya dengan kuat dan dan menariknya begitu saja.

“Hei, apa yang kau lakukan?!” bentak Minran kepada pria di hadapannya yang dengan sangat lancang menyeretnya pergi. Pria? Demi Tuhan, apa yang akan dilakukan pria ini terhadapnya? Membayankannya saja Minran tak berani.

Dengan sekuat tenaga, Minran mecoba melepaskan tangannya yang mulai kesakitan. Hampir saja ia berteriak meminta tolong saat sadar siapa pria yang membelakanginya itu.

“Kyuhyun? Itu kau? Kau mau membawaku kemana?” Tanya Minran dengan volume suara yang mulai mengecil. Akan tetapi Kyuhyun tetap bergeming. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menghentikan perbuatannya.

“Hei, kenapa tidak menjawab? Kalau mau menggangguku, lebih baik nanti saja. Kau tahu kan, aku ada janji dengan Minhyuk.”

Mendengar itu, Kyuhyun semakin geram. Rahangnya mengeras dan mukanya memerah. Bukannya melepaskan Minran, ia malah semakin menguatkan genggamannya pada tangan Minran.

“Aw! Hentikan, kau menyakitiku,” pekik gadis itu meringis kesakitan.

Kyuhyun langsung tersadar mendengar jeritan gadis di belakangnya. Ia langsung melepaskan genggaman tangannya yang langsung disambut desahan napas lega dari Minran yang spontan mengelus pergelangan tangannya yang memerah.

“Maaf,” hanya itu yang keluar dari mulut Kyuhyun. Sejujurnya ia merasa amat bersalah membuat gadis itu kesakitan.

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan, huh?” kata Minran kesal. “Ada urusan apa kau membawaku kemari?”

Kyuhyun hanya terdiam medengar pertanyaan Minran. Tenggorokannya seperti tersumbat sehingga semua kata-kata yang hendak ia ucapkan tertahan di sana dan tidak bisa keluar. Jantungnya berdetak sangat cepat dan ia harap Minran tak menyadarinya.

“Sudah kuduga kau hanya menggangguku. Kalau memang tidak ada urusan, aku mau pergi.”

Minran hendak berbalik dan berencana benar-benar meninggalkan Kyuhyun. Tetapi gerakannya terhenti saat tangan Kyuhyun kambali menggenggam tangannya. Tetapi kali ini bukan di pergelangan tangannya, melainkan tepat di telapak tangannya membuat gadis itu terkejut.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang kau pikirkan hah?!” seru Kyuhyun yang sukses membuat Minran berpaling dengan wajah kebingungan.

“Kau yakin akan berada di sana saat Minhyuk menyatakan cinta pada Hana? Apa kau gila?! Itu sama saja kau berniat bunuh diri!”

Minran masih memandang Kyuhyun dengan wajah takut. Ia sudah terbiasa melihat Kyuhyun marah, tetapi kini pria itu benar-benar terlihat manakutkan. Seperti ada aura gelap yang menyelimutinya.

“A-aku…” Minran tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Dadanya kembali terasa sesak mendengat perkataan Kyuhyun barusan. Sedetik kemudian gadis itu jatuh berlutut dan menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Dan tepat setelah itu, Kyuhyun dapat mendengar suara tangisan Minran.

Pria itu terkejut dan bingung. Gadis ini menangis? Kenapa? Apa ini semua salahnya? Dengan ragu, Kyuhyun ikut berjongkok di hadapan Minran. Tangannya telah bersiap untuk memeluk gadis yang dicintainya, akan tetapi berhenti tepat sebelum kulit tangannya menyentuh tubuh Minran.

Tiba-tiba ia merasa ada yang salah. Ini sama sekali bukan gayanya. Bagaimana jika Minran terkejut dan menjauihinya? Tidak, bahkan hal itu terlalu mengerikan untuk diandaikan.

Dan pada akhirnya, Kyuhyun hanya mengusap pelan punggung Minran dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.

*****

“Terima kasih,” ucap Minran kemudian memakan es krimya dengan gerakan cepat. Saat ini, mereka sedang berada di taman dekat rumah, yang merupakan tempat mereka bermain-main saat kecil, bahkan hingga sekarang.

“Untuk es krimya? Tidak masalah, kau cukup mengganti uangku besok. Harganya agar kuberi tahu nanti.”

“YA!” seru Minran sambil meninju lengan Kyuhyun kuat-kuat karena jawaban konyolnya itu. “Kau benar-benar merusak suasana. Aku berterima kasih karena tidak membiarkanku pergi ke café. Sejujurnya aku tidak terlalu yakin apakah bisa bertahan di sana.”

“Kalau begitu kenapa pergi?”

“Aku sudah berjanji pada Minhyuk, tentu saja aku harus pergi.” Jawab Minran dengan senyum miris. “Tapi kenapa kau membantuku?”

Kyuhyun hampir tersedak air liurnya sendiri saat mendengar pertanyaan Minran yang terlalu tiba-tiba. Ia bahkan belum sempat mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan semacam itu.

“Aku? Aku… hanya tidak ingin kau bunuh diri saat melihat Minhyuk dan kekasihnya. Kau kan masih berhutang sebatang cokelat padaku. Lihat? Hutangmu bertambah sekarang,” jawab Kyuhyun asal.

Minran terkekeh pelan mendengar jawaban Kyuhyun yang lagi-lagi tidak masuk akal. Tapi itulah Kyuhyun sahabatnya sejak kecil. Sebenarnya apapun jawaban yang Kyuhyun lontarkan tadi, Minran akan tetap berterima kasih. Terima kasih? Ini adalah terima kasih pertamanya untuk Kyuhyun.

“Sudah gelap, lebih baik kita pulang,” ujar Kyuhyun sambil memandang langit yang mulai menghitam.

“Tidak, aku masih ingin di sini. Jika kau mau, pulang saja duluan. Aku sudah tidak apa-apa.”

“Memangnya siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku hanya tidak ingin dihujam oleh ibuku dan ibumu karena membawamu keluar hingga malam dan pulang tanpamu,” balas Kyuhyun yang tentu saja berbohong.

Ia sangat mengkhawatirkan Minran. Bagaimana jika ia sakit akibat hawa malam yang dingin menusuk?

“Cho Kyuhyun bodoh! Aku juga tidak butuh dikhawatirkan olehmu,” ucap Minran sebal lalu meninju Kyuhyun di tempat yang sama.

Kyuhyun tertawa bahagia. Minran sudah kembali seperti Minran yang dulu. Itu artinya, gadis itu sudah baik-baik saja kan?

*****

“Masuklah,” kata Kyuhyun menyuruh Minran masuk ke rumahnya. Ia mendorong bahu Minran agar gadis itu cepat masuk.

“Ck, jangan mendorongku. Tanpa di suruh pun aku tetap akan masuk.”

Gadis itu kemudian berbalik dan masuk ke rumahnya. Saat benar-benar yakin Minran telah masuk dengan selamat, barulah Kyuhyun berbalik dan juga masuk ke rumahnya.

*****

Siang itu Minran sedang duduk di bawah pohon besar di belakang kampusnya tanpa melakukan apapun, hanya sekedar bersantai. Sesekali jemarinya memainkan rerumputan halus yang ia jadikan sebagai tempat duduk.

Sebenarnya Minran tidak benar-benar bersantai. Otaknya tengah bekerja keras mengingat kejadian kemarin yang membuat kepalanya sakit. Dimulai dari ajakan Minhyuk untuk menemaninya menyatakan cinta pada Kim Hana, hingga malam yang ia lewati bersama Kyuhyun setelah ia membentaknya dengan cara yang sangat mengerikan guna mengehentikannya pergi ke café tempat – sekali lagi, Minhyuk menyatakan cinta pada Kim Hana.

Selama mereka bersahabat, ia rasa itu adalah perbuatan paling terpuji yang pernah Kyuhyun lakukan padanya. Minran cukup senang karena Kyuhyun akhirnya bisa memperlihatkan sisi lain dirinya yang jarang ia perlihatkan. Minran rasa ia cukup tersentuh saat itu, dan juga… bahagia?

Minran tahu persis bagaimana sifat Kyuhyun. Pria itu sebenarnya baik dan perhatian, hanya saja cara menyampaikannya berbeda dari Minhyuk. Atau lebih tepatnya ia tidak dapat menyampaikannya dengan benar.

Pria itu juga selalu mencoba menghiburnya saat sedang sedih, seperti Minhyuk – hanya caranya yang berbeda. Minhyuk memang selalu berhasil membuat perasaanya lebih baik, tetapi Kyuhyun selalu berhasil membuat tertawa dan bersemangat dengan lontaran kata-katanya yang konyol dan sedikit mengejek, namun mengundang tawa. Dan itulah mengapa Minran menyukai Kyuhyun.

Apa? Tunggu dulu. Apa barusan sebuah kalimat ‘aku menyukai Kyuhyun’ terlintas di kepalanya? Dan, kalau tidak salah ingat, tadi Minran baru saja membandingkan Kyuhyun dan Minhyuk?

Minran memukul-mukul kepalanya dengan telapak tangan mencoba mengembalikan pikirannya ke jalan semula. Sepertinya kejadian kemarin membuat pikirannya salah jalur. Salah, benar-benar salah!

“Apa yang kau lakukan? Jangan sampai semua rumus matematika yang kuajarkan padamu hilang akibat perbuatanmu.”

Suara yang sangat dikenali Minran menghentikan gerakan tangannya. Gadis itu menoleh dan langsung medapati Kyuhyun dan Minhyuk berdiri di sana. Kyuhyun dengan senyum gelinya – pasti dia yang barusan mengejek Minran, dan Minhyuk dengan raut wajah… kesal. Oh, tidak. Ini kiamatnya. Minran belum sempat menyusun cerita yang tepat untuk menjelaskan ketidak hadirannya kemarin.

“Lee Minran-ssi,” ucap Minhyuk datar. Mati kau Minran!

“Kau tahu, aku cukup kecewa saat kau melanggar janjimu.” Mulut Minran baru saja akan melontarkan alasan yang menurutnya logis saat Minhyuk kembali melanjutkan kata-katanya.

“Tetapi karena Kyu hyung telah mengakui dosanya, jadi kau kumaafkan, karena memang bukan kau yang salah.”

Minran memandang Minhyuk tidak mengerti. Selanjutnya ia memandang Kyuhyun yang sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Lagipula, usahaku kemarin membuahkan hasil. Jadi sekarang, aku sedang dalam mood yang baik,” tambah Minhyuk dengan wajah berseri-seri. Tepat dengan berakhirnya kalimat Minhyuk, suasana berubah menjadi canggung. Setidaknya hanya untuk Kyuhyun dan Minran.

“Benarkah? Jadi sekarang Kang Minhyuk dan Kim Hana adalah sepasang kekasih? Waa… chukae. Aku menyesal tidak datang kemarin,” kata Minran dengan cengiran lebar yang sangat dipaksakan.

Tiba-tiba ponsel Minhyuk berdering tanda ada panggilan masuk. Ia langsung merogoh alat elektronik itu dari saku celananya. Setelah melihat nama peneleponnya ia memberi isyarat pada Kyuhyun dan Minran untuk menjauh sebentar. Tentu saja untuk menerima panggilan dari kekasihnya.

“Aktingmu tadi tidak buruk,” ucap Kyuhyun saat benar-benar yakin bahwa Minhyuk sudah tidak berada di sekitar mereka. Ia kemudian duduk disamping Minran dan memandang lurus ke depan.

“Memangnya apa yang kau harapkan? Aku menangis di hadapan Minhyuk dan mengutarakan perasaanku? Konyol.”

“Sejujurnya aku sempat berpikir seperti itu tadi,” kata Kyuhyun yang dihadiahi jitakan keras dari Minran.

“Ah, apa yang kau katakana pada Minhyuk?” Tanya Minran penasaran mengabaikan ringisan kesakitan Kyuhyun.

“Yang mana?”

“Tentu saja tentang kenapa aku tidak datang kemarin.”

“Oh, aku hanya bilang kalau aku memaksamu ke rumahku untuk membantu menyelesaikan game. Hanya itu,” jawab Kyuhyun mengendikan bahu.

“Cerdik,” ucap Minran. “Tapi aku cukup merasa bersalah karena membohonginya.”

“Hanya karena itu? Tapi kau tidak pernah merasa bersalah padaku,” sergah Kyuhyun dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

“Bukankah kau juga begitu?” balas Minran yang sukses membuat Kyuhyun bungkam dan selanjutmya hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka berdua.

Sesaat kemudian, ponsel Kyuhyun berdering memecah keheningan. Namun kali ini bukan panggilan masuk, melainkan hanya sekedar pesan singkat.

“Hyung, maaf karena aku pergi begitu saja. Aku ada perlu sebentar dengan Hana. Jika kalian ingin pulang, pulang saja duluan,” eja Kyuhyun mengikuti kalimat yang tertulis di pesan singkat di ponselnya yang tentu saja dari Minhyuk.

“Cih, jadi ini yang disebut kekasih menghancurkan persahabatan?” lanjut Kyuhyun. “Harusnya aku memperhitungkan hal ini sejak pertama kali bocah itu menyukai Hana.”

“Sejak kapan?” Tanya Minran kali ini menatap Kyuhyun.

“Hmm… entahlah. Mungkin sekitar sebulan yang lalu? Saat mereka berada di satu kelo-“

“Bukan itu. Maksudku sejak kapan kau tahu bahwa aku menyukai Minhyuk?”

Pertanyaan itu lagi-lagi menohok Kyuhyun. Apa yang harus ia katakan? Haruskah ia mengatakan bahwa ia selalu memperhatikan gerak-gerik Minran? Tidak, itu tidak mungkin.

“Hei,” Minran melambaikan tangannya di hadapan Kyuhyun melihat pria itu hanya bergeming di tempatnya.

“Eo? Hmm… bukankah sudah kubilang, kau itu sangat tidak pandai menyembunyikan perasaanmu. Jadi perasaanmu itu sangat mudah terbaca,” jawab Kyuhyun cepat.

“Benarkah? Jadi, apakah Minhyuk mengetahuinya juga?”

“Kurasa tidak.”

Minran menghembuskan nafas. Antara lega dan kecewa. Sebegitu tidak pekanya kah Minhyuk terhadp perasaannya?

Kyuhyun menyadari perubahan raut wajah Minran. Seketika ia merasa bersalah karena ialah yang membuat gadis itu bersedih. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali bersemangat. Dengan gerakan cepat, ia menghadapkan wajahnya ke arah Minran.

“Mau minum kopi?”

*****

Kyuhyun tersenyum senang sambil melangkah dengan dua buah gelas kertas berisi kopi panas genggamannya. Ia sangat tahu, gadis itu akan merasa lebih baik jika disuguhi kopi favoritnya.

“Wah, kopi di kantin ini memang yang paling nikmat,” gumam Minran setelah menyesap sedikit kopi itu. Suasana hatinya mulai membaik sekarang.

Sekali lagi, sepertinya ia harus berterima kasih pada Kyuhyun sekarang. Namun ia tidak akan mengatakannya secara terang-terangan kali ini karena sejujurnya, ia agak gugup jika harus melakukannya. Gugup? Kenapa ia harus gugup di hadapan Kyuhyun? Hah, sepertinya pikirannya butuh penyegaran.

“Aku ke toilet sebentar,” ujar Minran. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun ia langsung melesat pergi.

Namun belum sempat gadis itu tiba di toilet, ia berhenti dan meraba kantong jeansnya dan tidak menemukan keberadaan ponselnya di sana. Ia pun berinisiatif kembali untuk mengambil benda itu. Akan tetapi tubuh gadis itu menegang saat melihat pemandangan yang didapatnya. Mendadak dadanya terasa sesak dan terasa sangat sakit, matanya memanas siap menumpahkan butiran bening yang dibencinya.

Kyuhyun heran melihat reaksi Minran saat menatapnya. Wajahnya terlihat terkejut dan syok. Tubuhnya bergetar hebat. Tetapi Kyuhyun kemudian menyadari sesuatu. Bukan ia yang ditatap Minran, melainkan sesuatu yang berada di belakangnya. Dengan gerakan cepat Kyuhyun berbalik untuk melihat sesuatu itu.

Damn! Umpat Kyuhyun dalam hati begitu melihat adegan yang berada di belakangnya. Kang Minhyuk dan Kim Hana yang sedang berciuman panas. Kyuhyun memaki Minhyuk dalam hati yang sangat salah dalam memilih tempat dan waktu untuk melakukan adegan tersebut.

Seketika Kyuhyun teringat Minran. Ia kembali memutar tubuhnya dan menemukan gadis itu tengah berjongkok sambil menangis. Dengan emosi yang menjadi-jadi, Kyuhyun bangkit dari bangkunya meninggalkan kopi yang belum disentuhnya sama sekali, dan menarik Minran pergi, kemana saja asal tidak di sini.

*****

Kyuhyun membawa Minran ke sebuah tempat sepi di sudut kampus yang tak aka nada seorang pun di sana. Sementara itu, Minran masih menangis. Jantungnya seperti diremas kuat-kuat hingga hancur lebur. Harusnya ia sudah tahu bahwa semuanya akan berakhir seperti ini. Tetapi ia belum siap. Ia belum siap kehilangan pria yang dicintainya.

Kyuhyun melirik gadis disampingnya. Hatinya ikut hancur melihat gadis itu menangis. Ia memang merasa iba, tetapi entah kenapa ia juga merasa marah saat melihat gadis yang dicintainya terus-terusan disakiti.

“Diamlah,” ujar Kyuhyun dingin namun tidak mendapat respon dari Minran.

“Hei, kubilang diam. Kau hanya buang-buang waktu jika ha-“

“Kau yang diam!” perkataan Kyuhyun terpotong akibat seruan Minran.

Gadis itu mengadahkan kepala untuk menatap Kyuhyun yang lebih tingginya. Kyuhyun dapat melihat dengan jelas pipi Minran yang sangat basah, mata memerah dan rambut acak-acakan. Gadis itu benar-benar jauh dari kata baik-baik saja.

Mendadak emosi Kyuhyun membuncah, entah karena apa. Mengendalikan emosi memang salah satu kelemahannya.

“Bodoh! Untuk apa menangis karena laki-laki bodoh yang sama sekali tidak peka?! Kalian sama-sama bodoh!” seru Kyuhyun tak kalah keras.

“Diam! Sudah kubilang jangan katakan apapun, kau tidak tahu apa-apa!”

“Aku lebih tahu darimu! Aku tahu rasanya sakit, aku tidak ingin kau terluka! Berpalinglah pada orang yang mencintaimu!”

“Siapa?!”

“Aku.”

Dengan gerakan cepat Kyuhyun mendorong Minran hingga punggung gadis itu menyentuh tembok, dan menguncinya dengan kedua lengannya. Kyuhyun mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa inchi saja dari wajah Minran yang terlihat terkejut. Karena perlakuan Kyuhyun, dan juga karena kata terakhir yang diucapkan pria itu barusan.

“Harusnya kau tahu sejak awal. Aku sudah menyukaimu lebih dulu, tak bisakah kau berpaling padaku sebentar saja?” ucap Kyuhyun dengan suara yang sangat lembut.

Jantung Minran berdetak cepat. Belum pernah ia melihat Kyuhyun yang seperti ini. Ia bisa merasakan wajahnya memanas. Dan apa itu? Kyuhyun menyukainya?

“A-aku…” Minran tak dapat melanjutkan perkataannya karena memang ia tak bisa memikirkan kata apapun yang dapat ia ucapkan sekarang.

Kyuhyun telah mengucapkannya. Semua yang ia pendam selama bertahun-tahun, akhirnya gadis itu mengetahuinya. Kyuhyun memajukan wajahnya lebih dekat lagi hingga kini bibir mereka telah bertemu.

Kyuhyun melumat bibir Minran perlahan dan dengan penuh kasih sayang. Ia membiarkan semua emosi yang ia tahan sedari tadi tersalurkan. Ia ingin gadis itu tahu seberapa besar cintanya, seberapa besar pengorbanan yang ia lakukan hanya demi gadis di hadapanya.

Mata Minran membulat sempurna. Bibir Kyuhyun telah menempel pada bibirnya. Tidak, bukan hanya menempel, melainkan Kyuhyun melumat bibirnya. Mereka sedang berciuman!

Tubuh Minran serasa tersengat listrik beribu-ribu volt. Ia ingin melepaskan diri, tapi entah kenapa tubuhnya tak bisa diajak kompromi dan hanya diam tak bergerak. Padahal, jantungnya tengah berdetak sangat cepat dan tak terkendali.

Kyuhyun memperdalam ciumannya, dan kini Minran mulai terbiasa. Ia mulai terbuai sensasi dari lumatan bibir Kyuhyun. Semua yang terjadi beberapa menit lalu hilang tak berbekas . ia dapat merasakannya. Ia dapat merasakan bagaimana perasaan Kyuhyun, cinta Kyuhyun kepadanya.

Tetapi Minran harus merasakan kekecewaan saat Kyuhyun mendadak melepaskan tautan bibirnya. Nafas Kyuhyun tersengal-sengal. Ia menatap Minran dengan raut wajah yang tak terbaca. Dan sedetik kemudian ia berbalik meninggalkan gadis itu begitu saja.

Minran menatap punggung Kyuhyun yang menjauh. Pria itu benar-benar meninggalkannya. Saat Kyuhyun melepaskan ciumannya tadi, Minran merasa agak kecewa. Dan setelah pria itu pergi, ia merasa sangat menyesal. Apa artinya ini?

*****

Semenjak kejadian itu, Kyuhyun seperti menjauhi Minran. Ia menjadi lebih pendiam di dekat Minran. Tidak ada lagi perkataan konyol, ejekan, tawa Kyuhyun. Sementara dengan Minhyuk, tak ada yang berubah.

Minran jadi merasa terabaikan. Sakit, rasanya lebih sakit daripada saat melihat Minhyuk berciuman dengan Hana. Seperti beribu-ribu benda tajam ditancapkan ke jantungnya, dilepaskan, ditancapkan lagi, dan dilepaskan hingga hancur.

****

Sejak kemarin, Kyuhyun tak terlihat dimanapun. Di kampus, di rumah, ia tak ada dimana-mana.

Minran menjadi gusar. Apa yang terjadi? Apakah Kyuhyun sakit? Apakah terjadi sesuatu pada pria itu? Ia tidak pernah bolos sebelumya.

“Cari tahu saja ke rumahnya,” kata Minhyuk saat Minran menanyakan hal itu.

Ke rumah Kyuhyun? Semenjak kejadian mereka berciuman, Minran tak pernah lagi datang ke rumah Kyuhyun, begitu pun sebaliknya. Minran benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan di rumah Kyuhyun nanti.

Namun pada akhirnya, rasa khawatir dan penasaran Minran mengalahkan pikiran-pikiran lain. Yang ingin ia ketahui sekarang adalah keadaan Kyuhyun, hanya itu.

Dan di sinilah ia sekarang, di depan rumah Kyuhyun dan sedang mengetuk pintu. Padahal dulu, ia hanya tinggal masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Semua terasa berbeda sekarang. Salah siapa ini?

Lamunan Minran buyar saat pintu kayu itu terbuka. Namun bukan Kyuhyun, ibu atau pun ayah Kyuhyun yang berdiri di sana, melainkan seorang wanita muda. Siapa dia? Di mana Kyuhyun dan keluarganya?

“Aku Daehee, sepupu Kyuhyun. Kau pasti Minran kan?” Tanya gadis itu menatap Minran secara intens.

“Bagaimana kau tahu namaku?”

“Tentu saja, Kyuhyun sering bercerita tentangmu, gadis yang sangat ia cintai. Hah, aku sampai bosan mendengarnya. Tapi tak apa, senang bertemu denganmu.”

Kyuhyun sering membicarakannya? Sebegitu besarnya kah cinta Kyuhyun padanya? Dan Minran sama sekali tak menyadari hal itu?

“Di mana Kyuhyun?” Tanya Minran cepat, tak sabar bertemu prisaa itu.

“Kau tak tahu? Bukankah ia menyukaimu? Apakah ia tidak mengatakan apa pun padamu?” Daehee balik bertanya dan dibalas gelengan kepala dari Minran.

“Kyuhyun dan yang lainnya berada di China. Sekarang aku yang tinggal di rumah ini.”

Deg!

Tubuh Minran hampir terjatuh jika saja ia tidak berpegangan pada ambang pintu. Kakinya lemas, dan dengan usaha keras, ia berhasil melangkah pulang.

Minran melangkah gontai menuju kamar, mengabaikan ibunya yang khawatir melihat keadaan putri tunggalnya yang tak terlihat seperti manusia normal. Tatapan matanya yang kosong menatap lurus ke depan dan langkahnya pelan, sesekali hampir menabrak benda di depannya.

Minran membenamkan kepalnya di bantal dan menangis sejadi-jadinya. Kyuhyun benar-benar pergi jauh dari jangakuannya. Kenapa ia pergi tanpa memberi tahu Minran? Apakah ia marah pada minran? Atau kecewa?

Minran merasa menjadi gadis paling bodoh di muka bumi. ia menyia-nyiakan begitu saja pria baik yang telah dikirimkan Tuhan untuknya.

Gadis itu merindukan Kyuhyun. Minran sedang berada dalam keadaan yang sangat buruk, dan ia membutuhkan Kyuhyun.

Ia sadar bahwa hidupnya sangat bergantung pada pria itu. Kyuhyun adalah sumber kehidupannya. Tanpa Kyuhyun, hidupnya akan hancur. Dan sialnya, ia baru menyadari hal itu sekarang, disaat Kyuhyun telah meninggalaknnya.

Ia selalu membenci kenyataan bahwa penyesalan selalu datang belakangan dan waktu tak dapat berputar kembali. Dua hal yang sangat berpengaruh dalam hidupnya sekarang.

Kini ia tahu bagaimana perasaan Kyuhyun. Hancur, itulah yang ia rasakan. Apakah ini semua karma dari Tuhan? Jika iya, Minran tak akan menolak. Ia memang pantas mendapatkan semua ini karena telah mengabaikan orang yang mencintainya.

*****

Wajah Kyuhyun berubah cemas setelah mengakhiri telepon dari seseorang. Baru saja ia mendapar kabar paling burik yang pernah ia dengar

Dengan segera, ia mengubungi agen pemesanan tiket pesawat dan memesan tiket pesawat ke Korea dengan penerbangan paling pagi.

Baru saja Minhyuk meneleponnya, mengabarkan keadaan Minran yang sangat kacau. Sudah 3 hari ia mengurung diri di kamarnya, demam tinggi, dan  tidak mau menyentuh makanannya sedikit pun.

Kyuhyun hampir pingsan mendengarnya. 3 hari tidak makan? Apakah gadis itu sedang berniat bunuh diri secara perlahan?

Tetapi yang membuat pria itu heran adalah, Minhyuk mengatakan bahwa Minran melakukan itu sejak Kyuhyun pergi. Dan gadis itu juga sesekali menyebutkan nama Kyuhyun dalam tidurnya.

Hal itu tentu saja membuat Kyuhyun bingung. Setahunya, Minran tak menginginkan Kyuhyun untuk berada di sisinya. Hal itu Kyuhyun sadari saat Minran tak membalas ciumannya waktu itu. Itu artinya, gadis itu tak menginginkannya kan?

Semenjak hari itu, Kyuhyun selalu menjaga jarak dari Minran. Ia tak ingin gadis itu merasa tak nyaman karena keberadaanya. Kyuhyun pikir inilah akhir dari perjuangan yang telah ia jalani selama bertahun-tahun. Ia telah mendapatkan hasilnya, dan kini ia tahu bahwa yang diinginkan gadis itu bukanlah dirinya.

Dan pada akhirnya, Kyuhyun memutuskan untuk mengikuti orang tuanya ke China karena alasan pekerjaan. Ia ingin menenangkan hati dan pikiran, walaupun ia yakin itu tak akan mudah.  Tetapi baru beberapa hari Kyuhyun berada di sana, ia malah mendapat kabar buruk dari tentang Minran. Bagaimana ia bisa tenang?

*****

Minran membungkus tubuhnya dengan selimut sambil memejamkan mata. Tidak, ia bukannya tertidur. Bahkan sudah berhari-hari ia tidak bisa tertidur. Ia hanya sedang meratapi nasibnya, mengingat hari-hari yang ia lewati bersama Kyuhyun.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Pasti ibunya dan Minhyuk. 1 jam yang lalu mereka masuk untuk membujuknya makan. Pasti kali ini mereka akan melakukan hal yang sama. Minran menarik selimut hingga menutupi keplanya agar mereka tak bisa melihat keadaannya yang kacau.

“Jangan menyuruhku makan lagi karena aku tidak akan melakukannya. Apa kalian tidak lelah terus memaksaku?” ucap Minran sedikit berteriak.

“Kalau kau tahu merekan lelah, kenapa tidak menurut saja?”

Minran  menurunkan selimutnya begitu mendengar suara yang tak asing lagi baginya. Ia kemudian berbalik untuk melihat apa seseorang yang dipikirkannya sekarang adalah benar.

“Kyuhyun…” ucap Minran lemah. Pria itu, dia berada di hadapannya sekarang. Ini seperti mimpi!

“Kudengar kau sudah tidak makan dan tidur selama berhari-hari,” ujar Kyuhyun sambil melangkah maju, mendekat ke tempat Minran berbaring.

Ia kemudian meletakkan telapak tengannya ke dahi Minran membuat gadis itu menahan nafas, berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak karuan. Separah ini kah reaksi tubuhnya terhadap Kyuhyun?

“Kau bahkan demam dan tidak mau minum obat atau pun ke dokter. Aku hampir mati terkena serangan jantung saat mendapat kabar tentang semua ini,” lanjut Kyuhyun.

Ia hendak melepaskan tangannya dari dahi Minran, tetapi gadis itu menahan gerakan tangannya. Ia menggenggam tangan Kyuhyun erat, dan memandang pria itu dengan raut wajah sayu.

“Jangan tinggalkan aku lagi.” Gadis itu memohon dengan suara bergetar. Itu menandakan bahwa ia benar-benar hancur sekarang.

Kyuhyun terenyum dan mengenggam balik tengan Minran dengan lembut. Ini terlalu mustahil untuk terjadi. Tetapi, gadis itu benar-benar menginginkannya. Mimpinya benar-benar menjadi kenyataan.

“tentu saja. Aku baru meninggalkanmu sebentar dan kau sudah seperti ini. Aku tidak ingin menyakitimu lebih,” jawab Kyuhyun lembut.

“Maaf,” ujar Minran. Butiran bening itu kembali meluncur melewati pipinya. “Aku yang salah. Harusnya aku menyadarinya sejak dulu, aku membuatmu sakit terlalu banyak.

“Aku ingin kau memaafkan kesalahanku. Berikan aku kesempatan kedua. Kita harus hidup bersama-sama hingga tua, tidak boleh berpisah. Aku… tidak bisa hidup tanpamu.”

Perasaan Kyuhyun serasa meledak-ledak. Benarkah gadis itu juga mencintainya? Menginginkan Kyuhun untuk berada di sisinya? Tuhan benar-benar memberikan balasan yang setimpal dengan penantiannya selama ini.

Kyuhyun mencium bibir gadis itu, melumatnya lembut. Minran tidak akan mengulang kesalahannya 2 kali. Ia membalas ciuman Kyuhyun. Makin lama, ciuman itu berubah menjadi lebih agresif, keduanya mencoba menyalurkan cinta mereka, melepaskan semua penderitaan yang mereka alami selama ini.

Setelah kurang lebih 5 menit, mereka melepaskan tautan bibir mereka dengan nafas tersengal-sengal, namun masih dengan jarak wajah yang sangat dekat.

Kyuhyun mengelus pipi Minran denga lembut, membuat gadis itu memejamkan mata menikmati setiap perlakuan Kyuhyun.

“Never. I never leave you again,” ucap Kyuhyun kemudian mengecup kening gadisnya.

End

Wahhh…finaly my first ff is finish !! yeay!

Ini debut pertamaku sebagai author ff dan rasanya bahagia banget.

Walaupun aku akaui ff ini gaje dengat cerita yang mainstream, typo dimana-mana, dan kata-kata yang semrawut, maklum, pertama kalinya.

Author mohon untuk para readers yang baik hati untuk comment di bawah. Author masih perlu banyak belajar, jadi butuh saran, kritik, dan semangat dari kalian.

Sekali lagi semoga kalian menikmati ff ini ya. Walaupun author ngerti kalau kalian nggak suka. Apalagi di bagian kiss scene yang benar-benar seadanya dan. Author belum pernah ngerasain ciuman sihh… (kode buat Kyuhyun #plak!) hihi…

Sebelumnya makasih udah baca ff ini. Jangan lupa comment ya ^^

Advertisements

7 thoughts on “[Oneshoot] My Source Of Life

  1. wiiii,,,
    sweett abiss onn…
    ap pas mreka lg kissing gg kepergok gituu???
    ahaha,,,,
    kayknya seruu kalo mreka kepergok gituu…

  2. Persahabatan berubah jd cinta…..kayaknya indah dech kalau bisa mengalaminya…..cerita yg bagussssss👍👍👍👍👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s