[Oneshoot] Without Word

PicsArt_1420298523840

Romance, Oneshoot

—————–

Seorang pria tengah duduk di salah satu meja di pojok café yang selalu ditempatinya setiap kali datang ke tempat itu. Matanya terus menatap ke arah jendela besar yang berada tepat di sampingnya, mengawasi setiap orang yang melewati jalanan sibuk  kota Seoul.

Di hadapannya terdapat secangkir cappuccino – yang seharusnya hangat, tetapi kini mulai kehilangan uapnya menandakan pria itu sudah berada di sana sejak lama. Cappuccino itu dingin tanpa tersentuh sama sekali sejak dihidangkan di depan pria itu karena bukan cappuccino itu alasan utama ia datang kemari.

Perhatian pria itu teralih saat telinganya menangkap dentingan bel yang berada di pintu café yang menandakan bahwa ada seseorang yang membuka pintu tersebut. Pria itu tahu tak banyak orang yang datang ke café ini, terlebih di jam-jam seperti ini. Jadi, ia sudah bisa menebak seseorang yang akan muncul di balik pintu itu.

Senyumnya mengembang begitu mengetahui kalau tebakannya benar. Tak jauh darinya, berdiri seorang gadis cantik berbalut dress kuning pucat selutut. Gadis itulah yang menjadi alasan utama pria itu datang ke café ini.

Dan sesuai dengan tebakkan pria itu lagi, gadis itu kini tengah berjalan menuju meja di pojok café dan duduk di sana sehingga kini pria dan gadis itu sedang duduk berhadapan, walaupun dalam jarak yang cukup jauh.

Seperti biasa, seorang pelayan café akan menghampiri gadis itu untuk menunjukan menu dan ia akan memesan minuman yang sama dengan yang dipesannya setiap datang ke sini yang pria itu juga tidak tahu minuman apa itu. Tapi yang jelas, minuman yang dihidangkan di hadapan gadis itu selalu sama setiap harinya.

Pria itu kembali melebarkan senyumnya saat si gadis mengangkat kepalanya untuk melihat ke luar jendela sehingga kini pria itu dapat mengamati wajah gadis itu sepuasnya.

Kulitnya putih bersih tanpa noda atau goresan sedikit pun. Hidungnya cukup mancung, mulut mungil, dan mata besar yang selalu terlihat berbinar. Rambut hitam panjangnya selalu ia gerai. Namun kali ini ia menambahkan sebuah jepit rambut berbentuk pita menambahkan pesona yang begitu menyilaukan di mata pria itu.

Ia tahu bahwa gadis yang kini tengah ditatapnya tak pernah balik menatapnya, bahkan menganggapnya ada dan menyadari keberadaanya pun tidak. Namun itu tidak masalah baginya. Selama gadis itu masih berada dalam jarak pandangnya dan ia masih bisa melihat gadis itu setiap hari, ia rasa semua baik-baik saja.

Pria itu tahu ia sedang jatuh cinta, pada gadis yang berhasil membuat matanya tak bisa lepas saat pertama kali memandangnya. Sejak saat itu ia bahkan telah menetapkan bahwa gadis itu adalah gadisnya. Jadi apapun yang terjadi ia tentu harus nendapatkan gadisnya. Harus.

*****

Hujan deras mengguyur malam kota Seoul tanpa ampun. Setiap butirnya jatuh dengan kecepatan tinggi menimbulkan cipratan besar saat membentur aspal keras.

Setiap pejalan kaki, pengendara motor atau pun pesepeda kebanyakan akan langusng mencari tempat beratap untuk berteduh dengan wajah gusar karena hari sudah gelap. Kecuali pria tampan yang terlihat tergesa-gesa menembus derasnya hujan.

Tubuh pria itu menggigil kedinginan karena air hujan telah berhasil menerobos masuk melalui jaket baseball dan kausnya dan kini mulai membasahi punggungnya. Langkahnya melambat akibat tubuhnya yang terasa kaku dan mulai mati rasa. Namun langkahnya kembali dipercepat saat melihat bangunan cokelat tua yang hanya berjarak beberapa meter darinya.

Dentingan bel kembali berbunyi saat pria itu membuka pintu café. Sebelum duduk di mejanya di sudut café, ia terlebih dahulu melihat ke sudut yang berlawanan.

Gadis itu masih di sana, duduk sambil menyesap minuman di dalam cangkir putihnya. Pria itu bernafas lega, seolah-olah ia baru saja berada dalam kekahwatiran yang amat sangat.

Ini semua akibat kakak perempuannya yang mendadak, di saat yang tidak tepat memaksa untuk dipinjamkan mobil karena mobil kakaknya sedang berada di bengkel. Mau tidak mau ia harus menurutinya dan memutuskan ke sini dengan berjalan kaki meski tahu bahwa cuaca sedang sangat tidak bersahabat.

Dan sialnya lagi, ia sama sekali lupa untuk membawa payung karena tidak terbiasa. Ia sempat berpikir untuk kembali dan mengambil benda itu, tetapi menurutnya hal itu sangat membuang waktu. Jadi ia memutuskan untuk tetap menerobos ganasnya cuaca dibandingkan harus kehilangan kesempatan untuk melihat gadis itu.

Pria itu telah merindukan gadisnya sejak tadi pagi. Padahal, mereka baru bertemu kemarin malam. Sepertinya cintanya pada gadis itu benar-benar bertambah kuat.

Ia kemudian memutuskan untuk duduk di meja yang selalu ditempatinya setiap kali datang. Baru saja ia hendak melakukan kegiatan favoritenya – memandangi wajah gadis itu saat merasakan tepukkan pelan di bahunya.

“Jika tamu bukanlah raja, kurasa teman-temanku sudah bersiap melakukan eksekusi terhadapmu,” ucap suara dari pria yang menepuknya.

Pria itu memalingkah wajahnya dan menemukkan Kim Joonmyun, sahabatnya yang juga bekerja part-time di café ini tengah memandangnya dengan tatapan ganas yang sama sekali gagal.

Pria itu kemudian mengikuti arah pandang Joonmyun dan mendapati genangan air di depan pintu café, berlanjut pada jalan yang tadi dilewatinya dan berkahir di tempat ia duduk sekarang.

Pria itu kembali menatap Joonmyun tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Sayangnya tamu adalah raja. Jadi kau maupun teman-temanmu tidak bisa seenaknya saja mengeksekusiku.”

“Cih, dari dulu kau memang selalu begitu Kyuhyun-ah,” cibir Joonmyun. Ia lalu menyodorkan buku menu ke meja Kyuhyun.

“Mau memesan sesuatu?”

Kyuhyun menatap sebentar ke buku menu itu seolah sedang berpikir. Tak lama kemudian ia menggeleng sambil menyodorkan kembali buku itu ke arah Joonmyun.

“Kurasa kali ini tidak. Aku tidak akan lama berada di sini.”

“Kenapa? Kau tahu kalau gadis itu akan pergi sebentar lagi? Kalau begitu lain kali jangan terlamabat lagi Kyu,” ucap Joonmyun yang disambut tatapan terkejut dari Kyuhyun.

Bagaimana pria itu tahu? Seingatnya ia tak pernah mengatakan apapun kepada Joonmyun.

“Jangan memandangku begitu. Bukan hanya aku, seluruh pegawai di café ini juga mengetahuinya. Sikapmu terlalu terang-terangan. Selama sebulan penuh kau selalu datang menunggu gadis itu setiap malam, lalu memandangnya sambil tersenyum dan sesekali tertawa kecil,” cecar Joonmyun yang sukses membuat Kyuhyun terperangah.

Tersenyum dan tertawa kacil? Separah itukah reaksi Kyuhyun hanya dengan memandang gadis itu? Dan apa itu? Seluruh pegawai di café ini telah mengetahui perasaanya? Jadi selama ini mereka tahu? Kyuhyun merasa sangat malu sekarang. Rasanya ia ingin pergi menyembunyikan diri dimana saja, asal tak terlihat oleh orang-orang café ini.

“Kurasa itu juga salah satu alasan kenapa teman-temanku batal mengeksekusimu. Aku yakin mereka juga tahu rasanya jatuh cinta. Menembus derasnya hujan hanya untuk melihat gadis pujaanmu? Bukankah romantis sekali Kyuhyun-ah… sepertinya perasaanmu benar-benar berada di taraf akut,” lanjut Joonmyun dengan nada mengejek.

Hei, kapan lagi ia bisa meledek Kyuhyun habis-habisan seperti ini? Biasanya pria itu akan langsung tersinggung jika diganggu sedikit saja. Tetapi Kyuhyun memang paling lemah jika sedang jatuh cinta.

“Tutup saja mulutmu itu,” ucap Kyuhyun geram. Lihat? Pria itu kalah telak!

Seolah megabaikan perkataan Kyuhyun, Joonmyun mengubah posisinya hingga kini ia telah duduk di kursi di seberang meja Kyuhyun hingga pengelihatan pria itu ke arah gadisnya terhalang.

Baru saja Kyuhyun akan mengajukan protes, namun mulut Joonmyun bergerak lebih cepat.

“Dengar, jika kau memang menyukainya, dekatilah. Jangan hanya duduk dan terus menunggu di sini, gadis itu tidak akan datang dengan sendirinya. Kyuhyun yang kukenal bukanlah Kyuhyun yang pengecut seperti ini. Siapa tahu kau dapat merubah hidupnya.”

“Sok tahu sekali kau, Tuan Kim. Aku bukannya menunggu, melainkan sedang mencari saat yang tepat. Lagipula, kenapa aku dapat merubah hidupnya?”

Joonmyun hanya santai mengangkat kedua bahunya lalu bersandar pada kursi. “Cari tahu saja sendiri.”

“Cih, perkataanmu seolah-olah kau mengenalnya saja,” cibir Kyuhyun.

“Aku memang mengenalnya. Dia teman adikku saat SMA dan sering datang ke rumah. Kurasa mereka masih berteman sampai sekarang walaupun ia tidak pernah berkunjung ke rumahku lagi.”

Perkataan Joonmyun barusan tentu menarik perhatian Kyuhyun. Pria itu mengenalnya? Lalu kenapa tidak bilang dari dulu?

“Tapi kalau tidah salah adikku pernah bercerita bahwa gadis itu pernah mengalami kejadian traumatis yang mengubah hidupnya,” lanjut Joonmyun sambil terlihat mencoba mengingat sesuatu.

Gelagatnya itu tentu saja membuat Kyuhyun semakin jauh penasaran. Ini adalah kesempatan untuk mengetahui lebih banyak mengenai gadis itu.

“Apa yang terjadi? Kejadian apa?” Tanya Kyuhyun tak sabaran.

“Sudah kubilang, cari tahu saja sendiri.” Jawaban singkat dari Joonmyun barusan hampir saja membuat Kyuhyun mencekik lehernya jika saja tidak ingat bahwa masih ada orang lain di dini, terutama gadis itu.

“A-a… aku juga tidak akan memberi tahu nama gadis itu. Akan lebih memuaskan kalau kau tahu dari gadis itu sendiri,” ucap Joonmyun saat melihat Kyuhyun membuka mulut hendak mengatakan sesuatu.

Mulut Kyuhyun kembali tertutup rapat saat sudah mendapat jawaban dari pertanyaan yang hendak ia ucapkan. Jawaban yang sama sekali tidak bisa diandalkan.

Joonmyun kemudian bangkit dari kursinya, lalu menepuk bahu Kyuhyun dua kali dan pergi meninggalkan pria yang kini tengah lega karena bisa menikmati pemandangan di hadapannya.

Namun Kyuhyun harus merasa kecewa saat gadis itu juga ikut bangkit dari kursinya sambil menenteng tas selempangnya, meninggalkan beberapa lembar won di atas meja, dan keluar dari café.

“Joonmyun sialan,” desis Kyuhyun. Ini adalah pertama kalinya ia melewatkan kesempatan emas bertemu gadis yang ia cintai. Ia harap waktu cepat berlalu agar ia bisa kembali bertemu gadis itu besok malam.

*****

Seperti telah menjadi kewajibannya setiap malam, Kyuhyun datang lagi ke café ini, duduk di tempat yang sama, tetapi kali ini dengan tekad yang berbeda.

Kali ini, Kyuhyun tidak hanya berniat untuk mengamati gadis itu dari jauh, tetapi ia akan mencoba mendekatinya. Sepertinya perkataan Joonmyun kemarin benar-benar telah meracuni pikirannya.

Malam setelah ia pulang dari café, Kyuhyun terus memikirkan perkataan Joonmyun. Setelah dipikir, ada benarnya juga perkataannya. Mau sampai kapan ia duduk di sini dan memandanginya terus? Bagaimana jika gadis itu bosan dengan café ini dan tidak pernah kembali lagi? Tentu Kyuhyun akan kehilangan, tanpa mengetahui informasi apapun tentangnya, bahkan nama pun ia tidak tahu.

Atau bagaimana jika gadis itu digaet pria lain? Gadis secantik dia tentu tidak akan sendiri dalam waktu lama. Siapa cepat, dia dapat.

Apalagi, perkataan Joonmyun kemarin hampir membuat Kyuhyun mati penasaran. Mengenai kejadian traumatis yang mengubah hidup gadis itu. Kejadian apa? Dan kenapa menurut Joonmyun, Kyuhyun dapat merubah kembali kehidupannya?

Beribu pertanyaan yang berputar di kepala Kyuhyun hilang dalam sekejap begitu bel pintu berdenting menampakkan sosok gadis yang langsung membuat Kyuhyun merekahkan senyumnya.

Kyuhyun menunggu hingga gadis itu memesan sesuatu. Kemudian ia bangkit, merapihkan pakaiannya yang sebenarnya tidak berantakkan, lalu menyambangi meja tempat gadis itu duduk sambil membawa secangkir cappucino miliknya.

“Cogiyo…” ucap Kyuhyun begitu tiba di hadapan gadis itu.

Gadis itu mendongak, menatap ke arah Kyuhyun. Cangkir kopi miliknya berhenti di udara saat Kyuhyun memanggilnya.

“Boleh aku duduk di sini?” Tanya Kyuhyun. Awalnya gadis itu terlihat bingung dan terkejut. Namun tak lama kemudian ia mengangguk meski masih dengan raut bingung.

Tentu saja. Di café ini masih banyak meja kosong karena memang hanya ada mereka berdua di sini. Lalu kenapa ia dan pria asing ini harus duduk semeja?

Setelah yakin telah medapatkan persetujuan, Kyuhyun duduk di kursi di seberang meja gadis itu sehingga kini mereka sedang berhadapan. Bukankah sebuah kemajuan yang sangat besar? Kyuhyun bahkan telah berhasil duduk semeja dengan gadisnya, dan saling berhadapan.

Kemudian gadis itu menggerakkan tangannya seperti mencoba mengatakan sesuatu. Namun Kyuhyun tidak megerti maksudnya.

Mendadak raut wajah gadis itu berubah seperti teringat sesuatu. Ia kemudian merogoh tasnya dan mengambil sebuah notes kecil beserta pena. Lalu ia menuliskan sesuatu dan menunjukkannya pada Kyuhyun.

‘Ada yang bisa kubantu?’ begitulah tulisan yang tertera di notes itu.

Kyuhyun mengernyitkan dahi. Kenapa gadis itu harus repot-repot menuliskan kata-katanya di notes? Apakah gadis itu bisu, tak bisa berbicara?

Kyuhyun kemudain menyadari sesuatu. Selama sebulan memandangi gadis ini, ia tidak pernah melihatnya berbicara ataupun bersuara. Jadi inilah sebabnya. Gadis itu bisu.

Namun Kyuhyun bukanlah tipe pria yang akan langusng kabur begitu mengetahui kekurangan seorang gadis. Ia sudah menetapkan gadis itu sebagai gadisnya, jadi apapun kekurangan yang dimilkinya, Kyuhyun tidak akan mundur.

Bahkan jika gadis itu juga tuli, buta, dan cacat fisik, Kyuhyun akan tetap memperjuangkan gadisnya. Cintanya sudah terlanjur tertanam terlalu dalam, dan tidak mungkin dicabut begitu saja.

“Namaku Kyuhyun, Cho Kyuhyun,” ucap Kyuhyun yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyan gadis itu.

Gadis itu sedikit terkejut mendengar jawaban Kyuhyun yang lebih seperti pernyataan. Namun tak lama kemuidan ia mulai menulis lagi di notesnya.

‘Aku Lee Minran’

Lee Minran? Nama yang cantik, batin Kyuhyun. Ia kemudian tersenyum lalu menatap gadis itu. Namun senyumnya hilang berganti dengan wajah tertegun saat gadis dihadapannya juga ikut tersenyum.

Sial! Kyuhyun mendadak lupa caranya bernafas begitu melihat senyum gadis itu. Tulang pipinya terangkat naik membentuk eye smile yang makin menguatkan kesan polos dari gadis itu dan tentu akan sangat sayang jika sampai terlewatkan.

Mereka lalu bercerita banyak seolah telah lama kenal, tanpa ada dinding pemisah dan jarak yang terbentang di antara mereka. Kyuhyun akhirnya tahu bahwa Minran adalah mahasiswa tahun keempat di Kyunghee University jurusan DKV, merupakan anak tunggal, menyukai warna biru, dan sangat benci sayuran.

Kyuhyun juga menceritakan tentang dirinya. Ia yang merupakan pemilik sebuah department store terkenal di Korea, tinggal di sebuah apartement meskipun keluarganya juga berada di Seoul dan memiliki rumah, dan memiliki seorang kakak perempuan yang cerewet.

Namun Kyuhyun tidak mungkin menceritakan bahwa setiap malam ia datang ke café ini hanya untuk memandanginya. Itu sama saja sedang menyatakan cinta bukan? Bisa-bisa gadis itu kabur saat tahu sedang bebincang dengan seorang pria aneh yang memiliki hobi memandanginya setiap hari.

Lagipula Kyuhyun juga tahu bahwa Minran tidak menceritakan semua tentangnya. Menceritakan tentang perubahan hidupnya seperti yang dikatakan Joonmyun. Tapi menurut Kyuhyun itu wajar karena hal-hal seperti itu bersifat pribadi jadi Kyuhyun juga tidak akan menanyakan hal itu.

Sangat tidak lucu jika Minran menganggapnya pria berengsek yang selalu ingin tahu kehidupan orang lain.

Mendadak gadis itu terkejut saat melihat arah jarum jam yang melilit pas di pergelangan tangannya. Ia membalik halaman notesnya yang telah penuh dan menulis lagi di lembaran baru.

‘Aku harus pulang sekarang. Senang bertemu denganmu’

Kyuhyun ikut melihat jam tangannya setelah membaca tulisan gadis itu dan seketika itu juga matanya membelalak. Padahal rasanya mereka baru bertemu beberapa menit, tetapi kenyataannya mereka telah berbincang lebih dari 1 jam. Waktu terasa begitu cepat bila bersama Minran.

Sebenarnya Kyuhyun sangat tidak rela jika harus berpisah sekarang. Ia masih ingin lebih lama bersama gadis itu, mengetahui lebih dalam kehidupannya.

Tapi lebih tidak mungkin jika Kyuhyun harus menahan gadis itu. Jadi ia hanya tersenyum lalu mengangguk. Dan tak lama kemudian Minran berdiri, membukuk di hadapan Kyuhyun, dan pergi dari sana.

Namun tiba-tiba Kyuhyun teringat sesuatu.

“Minran-ssi,” panggil Kyuhyun cepat tepat saat Minran baru saja membuka pintu café. Gadis itu lalu menatap Kyuhyun lagi.

Tanpa membuang waktu, Kyuhyun berlari menuju Minran yang masih menunggunya.

“Boleh aku mengantarmu pulang?”

*****

Malam hari di kota besar seperti Seoul memang tidak pernah sepi. Mobil-mobil masih melintasi jalanan, dan lampu-lampu gedung pencakar langit akan terus menyala sepanjang malam.

Hanya trotoar di pinggir jalan yang mulai sepi karena hanya segelintir pejalan kaki yang masih melewatinya, itu pun dengan terburu-buru. Hal itu membuat sepasang pria dan wanita yang sedang berjalanan beriringan menjadi semakin canggung.

Hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Si gadis hanya terfokus pada jalan yang harus dilewatinya untuk bisa sampai ke rumah, dan pria di sampingnya terus mengikuti kemana pun gadis itu pergi. Matanya terus mengawasi kalau-kalau ada sesuatu yang bisa membahayakan gadis di sampignya.

Mendadak langkah gadis itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan 2 lantai dan memiliki taman kecil yang hijau dan terlihat sangat terawat.

“Ah, ini rumahmu,” ucap Kyuhyun dan di sambut anggukan kepala dari Minran. Gadis itu lalu mengarahkan jari telunjuknya ke arah Kyuhyun, lalu menunjuk rumahnya dengan ibu jari.

“Kau mengundangku ke rumahmu?” Tanya Kyuhyun memastikan yang lagi-lagi disambut dengan anggukan Minran.

Tentu saja Kyuhyun mau. Datang ke rumah gadis yang dicintainya, mengobrol lebih banyak, dan siapa tahu akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Tetapi ia juga tahu waktu. Ini sudah larut malam, bukan waktu yang wajar untuk bertamu ke rumah seseorang, terlebih rumah seorang gadis.

“Mungkin lain kali saja,” jawab Kyuhyun akhirnya. Namun sedetik kemudian perasaan menyesal menyelubungi dirinya. Rasanya ia sangat ingin menarik perkataannya barusan dan diganti dengan ‘Baik, aku mau’

Namun gadis itu sudah terlanjur tersenyum mengerti. Senyum yang sudah menjadi candu bagi Kyuhyun.

Minran lalu membungkukkan tubuhnya mencoba berterima kasih, lalu berbalik dan masuk ke dalam rumahnya.

Setelah gadis itu menghilang di balik pintu, Kyuhyun masih berdiri di sana, masih belum berniat pergi. Jadi ini rumah Minran?

Satu kemajuan lagi yang dilakukan oleh Kyuhyun dalam sehari. Kini ia telah mengetahui rumah gadisnya, bahkan mendatanginya meski hanya sampai di depan. Ini bukan awal yang buruk, dan Kyuhyun harap semua yang akan berjaklan selanjutnya akan berjalan baik pula hingga gadis itu benar-benar menjadi miliknya.

Dengan senyum puas, Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan segera pergi dari sana.

Sementara itu, Minran memasuki rumahnya dengan wajah berseri. Sudah lama ia tidak merasa sabahagia ini. Harus diakui, pria itu memang tampan, penuh karisma, dan memperlakukannya dengan lembut.

Ditambah lagi, ada sesuatu dari dalam diri Kyuhyun yang membuatnya nyaman. Sama seperti yang dirasakannya saat bersama dengan kekasihnya.

Kekasih? Ya ampun! Ia hampir saja lupa tentang pria itu. Minran masih memiliki kekasih, dan dengan beraninya ia berdekatan denga pria lain yang baru dikenalnya. Bukankah ia telah berjanji untuk selalu setia pada kekasihnya? Yah, walaupun hanya dia seorang yang berjanji, namun tidak dengan kekasihnya.

Mendadak hati Minran terasa sakit. Kilasan memori 3 tahun lalu membuat nafasnya sesak luar biasa. Matanya mulai kabur akibat air mata yang menggenang dan bersiap meluncur turun. Keseimbangannya memburuk dan hampir mambuatnya terjatuh jika saja ia tidak dengan cepat mencengkram ganggang pintu.

Sudah lewat 3 tahun sejak kejadian itu, namun semuanya masih terekam jelas di kepala Minran, seperti baru kemarin terjadi.

Namun ia tersentak saat seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu dari gadis itu mendadak muncul dari dapur. Dengan cepat ia merubah raut wajahnya seperti tidak terjadi apa-apa. Ia tidak boleh menyusahkan ibunya dengan terlihat lemah di hadapannya.

“Kau sudah pulang, Min-ah…” ucap ibunya sambil tersenyum lembut. Ia lalu menarik lengan putrinya untuk duduk bersamanya di sofa.

“Hari ini kau pulang sedikit terlambat. Apa karena pria itu?”

Perkataan ibunya barusan sontak membuat Minran terkejut. Ibunya melihatnya? Ia dan Kyuhyun?

“Aigoo… ibu sangat senang melihat kalian. Siapa dia? Sepertinya ia pria baik-baik dan menyukaimu. Apa kalian berpacaran?” lanjut ibunya masih belum puas. Minran langsung menatap ibunya dengan ganas mendengar perkataan sok tahu dari wanita itu.

Minran kemudian menggerakan tangannya dengan lincah membentuk sebuah bahasa isyarat yang tentu dimengerti oleh ibunya yang berarti ‘itu tidak mungkin terjadi, kami hanya tidak sengaja bertemu di café. Ibu tahu sendiri hanya ada satu orang dihatiku’.

Ibu Minran merasa kecewa mengetahui hal itu. Ia sudah merasakan harapan bahwa putrinya akan bangkit, namun spertinya Minran sendiri belum memiliki tekad untuk melakukannya. Gadis itu masih mengingat mantan kekasihnya dan belum mau membuka hati kepada siapa pun.

Padahal, ibu Minran sangat merindukan putrinya yang dulu. Putrinya yang ceria, bersemangat, dan… bisa berbicara. Semua harapan itu sempat muncul saat melihat senyum Minran kepada pria yang bersamanya di depan rumah tadi.

Namun melihat sikap Minran sekarang, sepertinya harapan itu tidak akan terkabul dalam waktu cepat.

“Tapi ibu yakin pria itu menyukaimu. Ia akan merasa sakit hati jika tahu alasanmu datang ke café itu,” ucap ibu Minran lagi yang hanya diberi tanggapan dua bahu yang diangkat oleh putrinya.

Minran kemudian bangkit dari sofa, lalu meregangkan tubuhnya menandakan bahwa gadis itu kelelahan. Ia lalu melangkah ke lantai 2, tempat kamarnya berada, saat sebelumnya berpamitan pada ibunya menggunakan bahasa isyarat.

*****

Kyuhyun datang ke café lebih cepat dari biasanya karena sakrang masih sore. Saat sampai, ia tidak langsung duduk di mejanya, melainkan mendatangi seorang pegawai yang bertugas sebagai penjaga kasir.

“Bawa Kim Joonmyun padaku,” ucap Kyuhyun kepada pegawai itu dengan nada yang tak akan ada seorang pun yang berani menolak permintaannya.

Dan sinilah ia sekarang, duduk bersama pria yang sedari tadi terus menatapnya sambil tersenyum tanpa henti.

“Aku melihat kalian kemarin,” kata Joonmyun tersenyum penuh arti. “Sepertinya hubungan kalian mengalami kemajuan.”

Kyuhyun hanya memandang Joonmyun tanpa minat. Ia memang cukup bangga dengan kamajuan hubungan yang ia buat dengan gadis itu. Namun bukan itu alasan mengapa Kyuhyun menemui Joonmyun.

“Gadis itu bisu, dan kau tahu,” ucap Kyuhyun dengan nada sinis tanpa mempedulikan pernyataan Joonmyun barusan.

Pria di hadapannya jelas sedang kesal karena perkataannya diabaikan. Namun akhirnya ia angkat bicara juga.

“Ya, aku tahu. Itulah yang kusebut kejadian yang mengubah hidup Minran,” ujar Joonmyun dengan raut wajah serius. “Sayang sekali. Padahal aku masih bisa mendengar tawanya 4 tahun lalu saat ia berkunjung ke rumahku untuk terakhir kali.”

Alis Kyuhyun bertautan saat mendengar perkataan Joonmyun barusan. Tertawa? Dulu gadis itu bisa tertawa dan bisa bersuara? Lalu kenapa sekarang tidak?

“Apa maksudmu?” Tanya Kyuhyun penasaran. Kali ini ia harus mengetahuinya. Ia bahkan telah berencana mengancam Joonmyun habis-habisan jika masih tidak mau buka mulut mengenai gadis itu.

“Kau tidak tahu? Lalu apa saja yang kalian perbincangkan kemarin?” ucap Joonmyun gemas.

Namun Kyuhyun bergeming sama sekali tidak ada tanda-tanda akan membalas ucapan Joonmyun. Yang ia ingin tahu sekarang hanyalah tentang gadis itu.

Joonmyun sepertinya mengerti maskusd Kyuhyun. Dia juga benar-benar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika masih berusaha menutupi informasi tentang Minran. Sungguh, ia masih ingin hidup lebih lama.

“Oke, oke,” ucap Joonmyun dengan kedua tangan diangkat pasrah.

“Dulu Minran memang bisa berbicara. Tetapi menurut adikku, ada satu kejadian yang membuatnya kehilangan suara. 3 tahun lalu, ia berpacaran dengan seorang pria bernama Kim Taehyung yang merupakan sunbae satu tingkat di universitasnya.”

“Akan tetapi, mereka berpisah. Kalau tidak salah Taehyung yang meninggalkannya. Minran merasa sangat terpukul dan stress selama berbulan-bulan. Sejak saat itu suaranya menghilang. Kata dokter itu karena tekanan yang dirasakannya.”

“Tetapi aku tidak ingat mengapa Taehyung meninggalkannya. Saat itu aku tidak terlalu peduli jadi tidak menyimak perkataan adikku dengan benar.”

Kyuhyun menyimak dengan sangat serius setiap perkataan yang terlontar dari mulut pria itu membuat Joonmyun ketakutan. Wajah serius Kyuhyun memang yang paling menyeramkan.

Sebenarnya Kyuhyun tidak peduli mengapa Taehyung meninggalkan Minran. Yang ia tahu Taehyung adalah pria berengsek yang dengan sangat tidak tahu diri meninggalkan gadis secantik dan sebaik Minran.

Kini Kyuhyun tahu mengapa ia bisa mengubah kehidupan gadis itu. Jika Minran bisa melupakan Taehyung dan berpaling padanya, kemungkinan besar suara gadis itu akan kembali.

“Ah, kata teman-temanku yang sudah lama bekerja di sini gadis itu dan seorang pria yang kupikir Tehyung juga sering datang kemari dulu. Tetapi setelah mereka berpisah, gadis itu selalu datang sendirian tiap malam. Kurasa untuk mengenang pria itu.”

Mwo? Jadi tempat yang selalu ia dan Minran datangi ini, tempat yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka, merupakan tempat kenangan antara Minran dan si pria berengsenk Taehyung? Sebesar itukah cinta Minran terhadap pria itu?

Dan gadis itu datang kemari untuk mengenang pria yang telah menyakiti hatinya, yang telah mengambil suaranya.

Kyuhyun mengehela nafas kesal. Sepertinya impiannya untuk mendapatkan Minran tak akan berjalan semudah yang selama ini ia bayangkan.

*****

Selain café yang selalu di datangi setiap malam, Minran juga memiliki tempat lain yang selalu ia datangi tiap sore, sepulang kuliah, dan sebelum datang ke café. Tempat Taehyung berada.

Minran tersenyum di hadapan kekasihnya itu. Kekasih? Bisakah ia masih berharap begitu terhadap Taehyung?

Tentu! Batin Minran menjawab pertanyaannya sendiri. Tidak ada yang memutuskan hubungan mereka. Tidak pernah ada kata berpisah yang keluar dari mulut mereka. Jadi mereka masih merupakan pasangan kekasih kan?

Lagi-lagi Minran tersenyum. Bukan senyum yang ditunjukkan kepada Kyuhyun kemarin. Melainkan sebuah senyum lemah yang menyimpan banyak cerita pahit di dalamnya.

Ia lalu menggerakan tangannya untuk berbicara kepada Taehyung.

‘Aku bertemu seorang pria kemarin di café tempat kita dulu selalu bersama. Kami mengobrol banyak, bahkan ia mengantarku pulang ke rumah. Harus kuakui aku merasa nyaman di dekatnya. Ia pria yang baik’

‘Apa kau marah? Maafkan aku, padahal aku sudah berjanji untuk selalu setia padamu’

Minran menurunkan tangannya menyudahi perkataannya. Namun Taehyung tetap bergeming. Lagi-lagi Minran tersenyum miris. Ia tahu pria itu tidak akan pernah menanggapinya. Apalgi gadis itu baru saja memberi tahukan kabar pengkhianatan dirinya.

Dengan perasaan terluka, gadis itu berdiri dan pergi dari tempat itu, menuju café kenangan mereka.

*****

Seperti kemarin, Kyuhyun dan Minran kembali bertemu dan berbincang. Namun hari ini Kyuhyun merasakan ada yang berbeda dari Minran. Sikap gadis itu berubah, seperti… menjaga jarak darinya.

Ada apa? Seingatnya gadis itu masih baik-baik saja kemarin. Apa Kyuhyun telah melakukan kesalahan yang membuat gadis itu menjauhinya? Seingatnya juga tidak.

Tidak bisa. Ini tidak bisa dibiarkan. Kemarin hubungan mereka mengalami kemajuan pesat, tetapi kenapa sekarang mengalami kemunduran?

Namun bukan Kyuhyun namanya jika menyerah begitu saja. Ia harus melakukan sesuatu, apapun itu asalkan ia bisa mendapatkan gadis di hadapannya.

“Besok kau ada waktu luang?” Tanya Kyuhyun. Minran terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Besok memang hari Minggu, jadi ia tidak ada kelas, tentu saja selain pergi mengunjungi Taehyung dan datang ke café ini.

Ia langsung menuliskan sesuatu di notesnya, ‘Hanya pada pagi dan siang hari’.

“Baguslah. Bagaimana kalau besok kita ke taman bermain?” ucap Kyuhun lagi tanpa basi-basi.

Minran langusng menatap Kyuhyun terkejut. Apa ia tidak salah dengar? Kyuhyun mengajaknya ke taman bermain?

Tanpa pikir panjang, Minran langsung menganggukan kepala sambil tersenyum senang. Ia memang sangat suka taman bermain. Dulu, Taehyung sering mengajaknya ke taman bermain, mencoba semua permainan, dan makan permen kapas bersama.

Tapi itu sudah bertahun-tahun lalu dan ia merindukan saat-saat seperti itu. Jadi, tentu saja ia menerima ajakan Kyuhyun. Toh, mereka hanya berteman kan? Ia sama sekali tidak berniat menggantikan posisi Taehyung.

Kyuhyun tersenyum senang mendapat tanggapan positif dari Minran. Lihat? Sebentar lagi gadis itu akan menjadi miliknya. Kau benar-benar jenius Cho Kyuhyun!

“Baiklah, kalau begitu besok aku akan menjemputmu jam 10 pagi di rumahmu,” ucap Kyuhyun. “Jangan sampai terlambat, ok?”

*****

Kyuhyun berkaca pada kaca spion mobil untuk yang kesekian kalinya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa penampilannya hari ini baik-baik saja, setidaknya tidak akan mempermalukkan dirinya di hadapan Lee Minran.

Ia kemudian menekan klakson mobil untuk memberitahukan keberadaannya kepada sang penghuni rumah.

Tak lama kemudian, seorang gadis keluar dari dalam rumah dan tampak tergesa-gesa. Kyuhyun tersenyum melihat gadis itu.

Minran terlihat cantik meski hanya menggunakan dress putih tulang di atas lutut dan bowler hat cokelat muda. Gadis itu memang tetap terlihat cantik di mata Kyuhyun, apapun yang dikenakannya.

“Hai,” sapa Kyuhyun begitu Minran telah duduk di sampingnya. Gadis itu tersenyum menanggapi sapaan Kyuhyun.

Dengan cepat pria itu memalingkan wajahnya ke arah lain saat melihat senyum Minran. Makin lama senyum gadis itu semakin memabukkan. Sebaiknya ia tidak melihat senyum Minran untuk sementaraa jika tidak ingin terjadi sesuatu saat ia menyetir nanti.

Kyuhyun lalu menekan pedal gas dan melajukan mobilnya.

Hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Minran tentu tak bisa memulai pembicaraan duluan. Kyuhyun juga tak berani memulai percakapan. Bagaiman jika pria itu harus menolehkan kepalanya untuk membaca tulisan gadis itu di notes?

Sangat tidak lucu jika bukannya ke taman bermain, mereka malah berakhir di Surga. Kyuhyun belum mau mati sebelum Minran menjadi miliknya.

Jadi Kyuhyun harap waktu berputar lebih cepat agar mereka bisa cepat sampai ke tujuan.

*****

Tuhan benar-benar menjawab doanya karena kini mereka telah sampai. Sepertinya kunci agar waktu berputar cepat adalah terus bersama gadis di sampingnya. Tapi sialnya, gadis itulah penyebab mengapa Kyuhyun selalu ingin waktu terus melambat.

Mereka kemudian turun dan besenang-senang. Semua beban dan lelah mereka lupakan untuk sesaat.

Minran tak pernah sebahagia ini selama 3 tahun terakhir. Kyuhyun benar-benar seperti jelmaan Taehyung yang selalu tahu cara membuatnya bahagia.

Setiap pasang mata yang menatap mereka pasti akan setuju jika mereka merupakan pasangan bahagia yang tampak sangat serasi. Seorang pria tampan yang terlihat berkarisma bersama seorang gadis cantik dengan senyum indah. Siapa yang akan membantah?

“Ah, bianglala! Kau mau?” Tanya Kyuhyun pada Minran saat melihat benda besar berbentuk lingkaran berputar yang terdapat di tengah taman.

Minran mengangguk setuju dan sedetik kemudian Kyuhyun menggenggam tangannya dan menariknya ke arah benda raksasa itu.

Kyuhyun menggenggam tangannya! Tubuh Minran langsung menegang saat merasakan sentuhan Kyuhyun. Oh, yang benar saja? Ini hanya sentuhan biasa, tetapi kenapa reaksinya harus separah ini?

Dan sialnya lagi, Kyuhyun belum berniat melepaskan tangannya saat mereka sedang mengantri, mengakibatkan Minran harus mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap bernafas seperti biasa.

Tak butuh waktu lama, karena sesaat kemudian mereka menemukan tempat kosong. Kyuhyun baru melepaskan tangannya saat mereka sudah duduk di dalam bianglala menyebabkan Minran menghembuskan nafas lega.

Bianglala itu kemudian mulai berputar lagi membawa mereka naik ke atas. Minran terssenyum senang. Dulu, ia dan Taehhyung juga pernah melakukan hal ini.

Kyuhyun ikut tersenyum saat melihat senyum Minran. Lihat? Bahkan senyum gadis itu menular sekarang.

Pria itu bangkit dari duduknya, hendak berpindah tempat ke samping Minran agar ia bisa memandangi gadis itu sepuasnya tanpa perlu takut ketahuan. Kebiasaannya yang satu ini memang belum hilang, bahkan mungkin tidak akan pernah hilang.

Namun seperti telah direncanakan oleh Tuhan, bianglala itu mendadak berhenti dengan cukup kasar hingga tubuh pria itu hilang keseimbangan dan oleng ke depan.

Minran terlihat terkejut, begitupun dengan Kyuhyun. Bagaimana tidak? Hidung mereka hampir saja bertemu jika saja Kyuhyun dengan tidak cepat menahan tubuhnya menggunakan kedua tangan.

“Maaf,” ucap Kyuhyun yang langsung menarik tubuhnya ke belakang, melupakan niatannya tadi.

Minran mengangguk meski dengan air muka yang masih syok. Wajah gadis itu berubah menjadi semakin polos yang langsung membuat Kyuhyun menyesal karena tidak memajukan wajahnya lebih dekat lagi agar bibir mereka bertemu.

*****

Setelah dirasa hampir semua permainan telah mereka mainkan, kini Kyuhyun dan Minran tengah duduk di salah satu bangku kayu di tengah taman mengistirahatkan tubuh mereka yang mulai kelelahan.

Tiba-tiba mata Kyuhyun menangkap sebuah toko yang menjual permen kapas berwarna pink yang terlihat sangat menggiurkan.

“Tunggu di sini. Aku akan membelikan permen kapas untuk kita,” ucap Kyuhyun.

Dan tanpa menunggu jawaban dari Minran, pria itu langsung berdiri dan berlari menjauh.

Minran tampak tertegun. Apakah Kyuhyun adalah pria kiriman Tuhan untuk dirinya atas persetujuan Taehyung? Setiap perlakuan yang diberikan Kyuhyun selalu sama dengan apa yang Taehyung lakukan dulu kepadanya. Dan itu selalu membuat Minran nyaman.

Tak lama kemudian, Kyuhyun kembali dengan dua permen kapas di genggamannya. Baru saja pria itu akan membuka suara saat seseorang memanggilnya.

“Oppa!” gerakan Kyuhyun terhenti. Ia tahu, mungkin oppa yang dimaksud oleh si pemanggil adalah oppa yang lain. Tetapi suara itu terdengar begitu tak asing di telinganya.

Oh tidak, jangan gadis itu, batin Kyuhyun. Namun harapannya harus pupus saat melihat sosok yang berdiri tak jauh darinya.

Minran tampak heran melihat Kyuhyun yang mendadak mematung. Ia lalu mengikuti arah pandang Kyuhyun dan menemukan seorang gadis yang terlihat lebih muda darinya tengah berlari menghampiri mereka – ralat, menghampiri Kyuhyun.

“Oppa, tak kusangka kita bertemu lagi di sini,” ucap gadis itu sambil menggandeng lengan Kyuhyun mesra. Namun Kyuhyun tampak tak nyaman dan langsung melepaskan tangan gadis itu secara kasar.

Gadis itu adalah Son Naeun, anak teman ayahnya yang bisa dibilang sangat terobsesi padanya sejak pertama kali peremuan mereka. Padahal, Kyuhyun sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu. Ia hanya bersikap baik kepada Naeun untuk menghormati ayahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Kyuhyun sambil menatap tak enak ke arah Minran yang masih duduk di sana.

“Cih, kenapa sambutanmu tidak bersahabat begitu oppa?” Tanya Naeun balik, menghiraukan perkataan Kyuhyun.

Namun kemudian ia menangkap arah pandang Kyuhyun. Ia lalu memalingkan wajahnya dan mendapati Minran yang masih menyaksikan mereka.

“Eo? Kau ke sini bersama seorang gadis, oppa? Kau menghianatiku,” ucapnya. Ia langsung melangkah mendekati Minran sebelum Kyuhyun sempat menghentikannya.

Naeun memandang Minran dengan wajah tak suka menyebabkan gadis itu merasa tak nyaman terus dipandang dari jarak dekat seperti itu.

“Apa kau kekasih Kyuhyun oppa?” Tanya gadis itu lebih kepada dirinya sendiri.

“Hmm… kurasa bukan. Dilihat dari mana pun, aku lebih cantik darimu,” ucap Naeun dengan tidak tahu malu.

Minran merasa tersinggung dikatai seperti itu. Tetapi ia berusaha sabar dengan menganggap bahwa gadis di depannya hanya seorang anak kecil yang tidak tahu dengan apa yang diucapkannya.

“Siapa namamu?” Tanya Naeun. Namun Minran hanya diam bergeming tak merespon sedikitpun.

“Yak, aku Tanya siapa namamu?!” bentak Naeun kesal karena pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban.

“Hentikan Son Naeun!”

Kyuhyun menarik lengan Naeun kasar membuat gadis itu kesakitan.

“Aku hanya menanyai namanya, kenapa ia tidak mejawab? Seperti orang bisu saja,” ucap Naeun santai tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Cukup sudah. Kesabaran Minran telah habis. Sudah cukup dirinya dihina dan harga dirinya diinjak-injak seperti itu. Dengan cepat, Minran berdiri dan setelah menatap Naeun dengan tatapan bengis, ia melangkah pergi dari sana, tak ingin melihat wajah menyebalkan Naeun tanpa memberi kesempatan pada Kyuhyun untuk menahannya pergi.

“Kau sudah keterlaluan, Son Naeun,” desis Kyuhuj geram.

“Dengar. Yang aku cintai adalah gadis itu, bukan kau. Sekali lagi kau mengganggu hubungan kami, akan kupastikan kau tidak akan bisa lagi muncul di hadapanku.”

Setelah itu, Kyuhyun berlari menyusul Minran, meninggalkan Naeun yang sedang menghentak-hentakkan kakinya kesal.

*****

Sudah berjam-jam Kyuhyun berkeliling bukan hanya di taman bermain, melainkan seluruh kota Seoul hanya untuk mencari Minran. Namun gadis itu belum ditemukan.

Kyuhyun mengacak-acak rambutnya kesal. Harusnya hari ini berakhir dengan baik, namun ia malah menghancurkan segalanya. Gadis itu pasti marah dan kecewa padanya.

Son Naeun bedebah, batinnya murka.

Tiba-tiba Kyuhyun teringat satu tempat yang belum ia datangi, rumah Minran. Kyuhyun bodoh, kenapa tidak terpikirkan dari tadi? Rutuknya dalam hati

Pria itu langsung menginjak pedal gas dengan kekuatan penuh dan meliuk-liukkan mobilnya di jalanan padat kota Seoul.

Namun lagi-lagi Kyuhyun harus menelan pil pahit saat ibu Minran mangatakan bahwa putrinya belum pulang sejak pagi.

“Bukankah ia bersamamu?” Tanya wanita paruh baya itu.

“Ya, tapi kami sedikit berselisih. Itu memang salahku, ia marah dan langsung meninggalkanku,” jawab Kyuhyun merasa bersalah.

“Kalian bertengkar? Anak itu pasti sedang bersedih sekarang.”

Good job, Cho Kyuhyun! Setelah menyakiti anaknya, sekarang kau bahkan membuat ibunya merasa khwatir karena kau menghilangkan anak semata wayangnya. How amazing you are?

Ibu Minran tiba-tiba mengulurkan sacarik kertas putih berisi alamat sebuah tempat ke arah Kyuhyun. Pria itu tampak terkejut saat mengetahui nama sang pemiliki alamat yang juga tertulis di kertas tersebut.

“Coba kau cari gadis itu di alamat ini. Aku yakin ia ada di sana.”

*****

Mobil Kyuhyun berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat tidak terurus. Cat putih pada temboknya mengelupas sana-sini, tamannya ditumbuhi rerumputan liar yang meninggi. Rumah ini adalah rumah si berengsek Kim Taehyung.

Kyuhyun ingin tahu seperti apa pria bernama Kim Taehyung itu. Dilihat dari rumahnya saja sudah mencerminkan bahwa ia bukan pria baik-baik. Namun mengingat bahwa Minran ada di dalam sana, Kyuhyun bergegas turun dari mobil.

Rumah itu terlihat sepi, sepeti telah ditinggalkan pemiliknya sejak lama. Ia tidak salah memasuki rumah kan? Atau ibu Minran yang salah memberikan alamat?

Baru saja Kyuhyun hendak berbalik pergi saat matanya menangkap sosok gadis yang tengah berjongkok sambil mendundukan kepalanya dalam-dalam. Siapa gadis itu? Kyuhyun menyipitkan matanya berusaha menebak.

Lee Minran! Batin Kyuhyun saat menemukan satu nama yang cocok dengan gadis yang tengah berjongkok tersebut. Apa yang dilakukan gadis itu di sana? Gadis itu mengelus tanah di depannya menggunakan telapak tangan.

Tapi tunggu dulu. Di hadapan Minran terdapat sebuah gundukan tanah. terdapat sebuah batu menancap di atasnya. Kyuhyun kembali menyipitkan matanya untuk membaca tulisan yang tertera di batu tersebut.

“Kim Taehyung,” eja Kyuhyun mengikuti setiap kata yang dibacanya.

Astaga! Jadi Kim Tehyung…

Kini Kyuhyun merasa menjadi orang paling berdosa di muka bumi. Dengan mudahnya ia memaki dan mengutuki Kim Taehyung tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Rasanya ia ingin menyerahkan dirinya ke hadapan Tuhan sekarang juga atas perbuatannya.

Namun ia menyadari sesuatu. Apakah tadi ia mengeja nama Kim Taehyung dengan bersuara? Karena kini Minran tengah menatapnya dengan pandangan terkejut. Mau tidak mau, Kyuhyun mendekati Minran dan ikut berjongkok di sampingya.

“Ibumu yang memberi tahuku tempat ini. Tadi kau pergi begitu saja, jadi aku khawatir,” ucap Kyuhyun seolah tahu apa yang tengah dipikirkan gadis itu.

Minran menolehkan kepalanya seolah tak peduli. Ia masih cukup kesal dengan perlakuan Naeun di taman tadi siang.

“Dia pasti kekasihmu,” ucap Kyuhyun yang dijawab anggukan lemah dari Minran. Meski tak bertanyapun, Kyuhyun sebenarnya sudah tahu.

Hatinya mendadak terasa sakit melihat Minran terus memandang makam Kim Taehyung dangan tatapan terluka. Apakah yang ada di hati gadis itu hanya Kim Taehyung? Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Apakah ia masih memiliki kesempatan?

Tidak, ia tidak boleh menyerah. Ia sudah sampai sejauh ini dan tidak mungkin mundur begitu saja. Ia sudah berjanji akan mendapatkan gadis itu, dan harus itulah yang terjadi.

“Aku ingin meminta sesuatu padamu,” lanjut Kyuhyun.

“ Bolehkah aku menggantikan Taehyung di hatimu?”

Perkatann Kyuhyun barusan sontak membuat Minran terkejut. Pria ini sepertinya tidak pernah berhenti membuatnya terkejut.

“Ah, tidak. Aku tidak akan memaksamu melupakan Taehyung. Setidaknya berikan sedikit ruang di hatimu untuku. Biarkan aku mencoba.”

Kyuhyun menarik nafasnya dalam, mancoba menenangkan detak jantungnya yan berdetak dengan kecepatan di luar batas agar dapat berbicara dengan jelas.

“Saranghae, Minran-ah.”

Apa ini? Kyuhyun sedang menyatakan cinta padanya? Tubuh Minran kaku saat mendapat pengakuan cinta yang tiba-tiba seperti itu. Dadanya bergemuruh hebat.

Ia menatap Kyuhyun lama, mencoba mencari kebohongan pada sinar mata pria itu. Nihil, ia tidak menemukan apa yang ia cari.

Kyuhyun mendadak lemas saat gadis itu tak memberikan respon apapun. Hancur sudah harapannya. Minran memang tidak mencintainya, tetapi setidaknya ia sudah mencoba.

Namun tubuh Kyuhyun langsung menegang saat Minran tiba-tiba memeluknya. Sekali lagi, memeluknya!

Apakah  ini artinya gadis itu menerimanya? Kyuhyun balik memeluk gadis itu erat, meluapkan semua rindu dan beban yang dipikulnya selama sebulan ini.

Kyuhyun juga tahu bahwa Minran tengah bahagia sekarang karena Kyuhyun dapat mendengar tawa kacil milik Minran.

Apa? Mendengar tawa? Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menatap wajah gadis itu heran, sama dengan tatapan yang gadis itu berikan pada Kyuhyun. Ia yakin tidak salah dengar, gadis itu benar-benar bersuara!

“Yang tadi itu kau?” Tanya Kyuhyun memastikan.

Minran mencoba menggerkan mulutnya dan mengeluarkan suara.

“A-aku…” Kyuhyun dan Minran saling memasang wajah terkejut yang bodoh saat suara itu keluar lagi dari mulut Minran. Namun sedetik kemudian, keduanya tersenyum lebar.

“Aku bersuara!” teriak Minran bahagia. Teriakkannya benar-benar terdengarsuara malaikat begi Kyuhyun.

“Kau bisa berbicara!” Kyuhyun memeluk gadis itu lagi. Kali ini lebih erat dari yang tadi.

Cukup lama mereka berada diposisi seperti itu. Seperti tak rela memisahkan diri satu sama lain.

Kyuhyun melepaskan pelukannya, memajukan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir gadis itu dan mengecupnya sekilas. Minran membulatkan matanya atas perlakuan Kyuhyun yang terlalu tiba-tiba membuat pria di hadapannya tertawa geli.

Kyuhyun lalu menarik tubuh Minran dan memeluk tubuh gadis itu lagi.

“Saranghae, jeongmal saranghae,” ucap Kyuhyun dengan nada lembut.

Minran tersenyum mendengarnya. Ia kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Kyuhyun dan berbisik.

“Nado saranghae, Cho Kyuhyun.”

End

Haii.. second ff nih, hihi…

Walaupun author tahu ff ini sama absurdnya dengan ff yang sebelumnya. Apalagi typo yang masih setia menampakan diri dan author sangat tahu kalau endingnya kecepetan dan kurang greget (?)  ._.

Author harap kalian suka dengan ff ini dan mau comment di bawah. Karena keabsurdan ff ini menggambarkan kalau author masih perlu banyak belajar.

Thank You ~

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshoot] Without Word

  1. wahhh,,kerennn onn…
    romantisss abisss….
    cucokk dehhh
    ap ad sequel gituu onn??
    ato ad kisah d balik kebisuannya taehyun??
    tp koqq bs ampe bisu yaa saking stressnyaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s