[Twoshoot] The Fact (Part 1)

                                               PicsArt_1432105096144

Romance, Sad, Psycho

——————–
“Jadi, kuantar pulang?” ucap seorang pria sambil tersenyum jahil namun mata teduhnya seolah mengatakan bahwa kini ia sedang memohon.

Sementara itu, gadis dihadapannya hanya memandang dengan tatapan malas, lalu mengendikan bahu tak peduli. Kelihatannya saja begitu. Sesungguhnya gadis itu senang kekasihnya mau mengantarnya pulang meski sudah ia tolak berulang kali. Tetapi sialnya mendadak hujan turun dengan curah yang cukup banyak dan –lagi-lagi, sialnya ia lupa membawa payung sehingga mau tidak mau ia harus membiarkan kekasihnya mengantarnya pulang.
“Terserah kau saja,” ucap gadis itu akhirnya. Ia lalu mengenakan mantel cream-nya, menyampirkan tas mungil warna mocca ke bahu kiri, lalu melangkah meninggalkan kekasihnya yang masih sibuk meletakkan lembaran won ke atas meja yang senilai dengan pesanan mereka.

“Minran-ah!” seru pria itu. Yang dipanggil segera tersadar, lalu menghentikan langkahnya sejenak hingga si pria tiba di sampingnya, lalu melanjutkan perjalanan.

“Iya, iya. Maaf soal tadi. Tapi sekarang sedang hujan dan aku tidak mungkin membiarkan kekasihku kehujanan karena lupa membawa payung.”

Mendadak jantung Minran berdebar kencang. Ia tahu pria itu sengaja mengatakan kalimat terakhir untuk menggodanya yang memang selalu lupa membawa payung. Tapi bukan karena itu jantungnya berdebar, melainkan karena perkataan yang jelas-jelas mencerminkan bahwa pria itu mempedulikannya. Sederhana, tapi manis.

“Kau masih marah?” Tanya pria itu lagi. kini mereka sudah berada di dalam mobil. Minran menyapukan beberapa lembar tisu ke lengan dan rambutnya uantuk membersihkan tetes-tetes air yang sempat mengenainya.

Minran tersenyum. Ia tahu kekasihnya selalu gelisah dan tidak tenang jika sudah melakukan sesuatu yang membuat Minran tak nyaman. Sesungguhnya gadis itu masih ingin melakukan ‘aksi’-nya sebentar lagi. namun melihat pria di sampingnya begitu tersiksa, ia tak tahan.

“Aku tidak marah Kyu,” suara gadisnya seketika membuat pria itu mendesah lega. Setidaknya gadis itu tidak benar-benar mengabaikannya.

“Hanya saja aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin kau meninggalkan rumah sakit hanya untuk mengantarku ke supermarket yang tidak seberapa jauh. Bagaimana jika ada pasien yang membutuhkanmu dan kau tidak ada di sana? Bagaimana jika pihak rumah sakit mengetahuinya dan memarahi atau bahkan memecatmu? Kau benar-benar… ah, lupakan.”

Kyuhyun melirik Minran yang duduk disampingnya. Nafas gadis itu tidak teratur, menggambarkan bahwa ia sedang meledak.

Lagi-lagi Kyuhyun merutuki kebodohannya untuk yang kesekian kalinya. Minggu lalu, saat Minran meneleponnya untuk menanyakan kabar dan mengatakan hendak ke sebuah supermarket, Kyuhyun dengan sigap menawarkan diri untuk mengantarnya.

Harusnya pria itu tahu akan begini jadinya. Kekasihnya memang sangat tahu impiannya untuk menjadi seorang dokter karena memang mereka telah berpacaran sejak kuliah. Kyuhyun juga tahu Minran tak akan membiarkan apapun menghambat jalan Kyuhyun.

Dan kini Kyuhyun juga tahu persis mengapa Minran sangat marah saat Kyuhyun membolos dari pekerjaanya –meski hanya satu jam. Bukan hanya karena Kyuhyun yang membolos, tetapi gadis itu akan merasa sangat bersalah jika hal-hal buruk yang dikatakannya tadi terjadi. Hal itu, seharusnya Kyuhyun tahu sejak awal.

“Maaf,” lagi, kata-kata itu keluar dari bibir Kyuhyun. “Aku hanya ingin bertemu dengamu meski hanya sebentar. Kau tahu, semenjak aku menjadi dokter dan kau semakin sibuk dengan urusan kuliahmu, kita jadi jarang bertemu. Saat itu… aku benar-benar merindukanmu Min-ah.”

Minran mengatup bibirnya rapat-rapat, tak tahu harus berkata apa. Mendadak ia merasa bersalah. Kyuhyun merindukannya. Pria hanya ingin bertemu dengannya sebentar tapi Minran malah memarahinya.

“Baiklah, aku juga minta maaf. Tapi jangan berbuat hal-hal seperti itu lagi. kita bisa bertemu tiap akhir pekan jika kau mau,” ucap Minran akhirnya.

“Jadi, kau memaafkanku?”

“Tak perlu kuperjelas bukan, Cho Kyuhyun?”

Suasana di dalam mobil berubah menghangat. Kedua pasangan itu tertawa lepas tanpa mengetahui bahaya yang mengintai mereka di depan.

“Cho Kyuhyun, awas!”

Sebuah mobil jip melaju kencang ke arah mereka dengan tak terkendali, menyambar apapun yang berada di depannya. Dalam hitungan detik mobil itu tiba di depan mobil Cho Kyuhyun dan Lee Minran

“Ap- Argghhh!!”

“Kyyaaaaa !!”

………….

………….

………….

Kyuhyun…. Bangun Cho Kyuhyun….

     Kyuhyun……

*****

Pagi itu, Minran tengah berdandan di depan cermin besar di kamarnya. Ia terlihat manis menggunakan blus biru muda dan jins hitamnya. Sekali lagi, ia memastikan bahwa penampilannya tidak buruk jika dikenakan untuk hari yang sangat penting bagi gadis itu.

Setelah merasa puas, ia meraih ponselnya, memasukan benda elektronik itu ke dalam kantong celana, lalu turun ke lantai bawah.

“Mau pergi?” Tanya ibunya saat Minran melangkah pada anak tangga terakhir. Minran mengangguk semangat.

“Dengan Kyuhyun?” Ibunya seolah menebak gelagat putrinya.

“Yep,” Jawab Minran sambil mengenakan flatshoes putihnya.

“Baiklah, Hati-hati.” Kali ini Minran hanya menjawab ibunya dengan senyuman. Senyuman yang membuat hati ibunya semakin hancur.

Setelah Minran menghilang di balik pintu, ibunya terduduk di sofa sambil meremas dadanya yang terasa sakit. Air matanya menetes lagi, dan lagi. tidak tega melihat penderitaan putrinya.

*****

Minran menunggu di sana dengan senang hati, meski ia telah berdiri sekitar hampir setengah jam. Sanyumnya merekah saat melihat seorang pria yang tengah melambai ke arahnya, beberapa meter dari tempatnya berdiri. Cho Kyuhyun.

“Lama menunggu?” Tanya Kyuhyun begitu ia tiba di hadapan Minran. Sangat terlihat bahwa pria itu merasa sangat menyesal. “Ada urusan sebantar tadi.”

Gadis itu menggeleng. “Tidak apa,” jawab Minran, tetap tersenyum. Ia tidak ingin membuat kekasihnya merasa bersalah, lalu mencoba meminta maaf. Ia takut kejadiannya akan sama seperti lima bulan lalu. Ia sangat takut.

Kyuhyun lalu menggenggam tangan gadisnya, dan menuntun gadis itu. Minran tersenyum senang. Meski hanya sentuhan kecil, ia sangat menyukainya. Ia suka saat merasakan hangatnya tangan Kyuhyun.

Mereka tiba di sebuah toko bunga. Kyuhyun menyuruh Minran untuk menunggu, sementara ia masuk ke dalam toko tersebut. Minran ingin ikut, tapi ia tidak protes dan menurut.

Tak berapa lama kemudian, Kyuhyun keluar. Minran tersenyum senang saat pria itu menyodorkan setangkai mawar putih favoritenya. Kyuhyun memang sangat mengerti dirinya. Minran suka hal itu.

Lalu, mereka mulai melangkah lagi. kali ini menuju sebuah café. Sejak kejadian itu, Kyuhyun memang tidak pernah lagi membawa mobil. Bahkan jika dingat-ingat, beberapa bulan ini Kyuhyun tidak pernah menjemputnya. Mereka hanya akan membuat janji untuk bertemu di suatu tempat, lalu berjalan beriringan.

Minran sama sekali tidak keberatan. Malah, ia lebih suka berjalan kaki dibanding harus semobil dengan Kyuhyun. Tidak, jangan lagi. ia sudah terlalu takut untuk mengingatnya. Ia trauma.

Minran menggelengkan kepalanya. Kejadian itu sudah berlalu, jadi mengapa harus dipikirkan? Yang penting, Kyuhyun sedang bersamanya di sini, di sampingnya.

Minran memeluk lengan Kyuhyun. Sementara pria itu tersenyum lalu mengusap lembut rambut Minran. Kalau saja tidak ditahan, mungkin air mata Minran akan jatuh sekarang juga. Ia tidak ingin kehilangan pria ini. Ia tidak akan sanggup. Pria ini, telah memiliki hatinya sepenuhnya.

*****

Mereka kemudian sampai di sebuah café kecil di tangah kota, terhimpit di antar gedung-gedung megah dan tinggi. Mereka lalu duduk di sebuah meja untuk dua orang yang terletak di sudut, di samping jendela besar yang langsung menghadap keluar café –tempat yang selalu mereka duduki setiap datang ke café ini. Minran menyukai tempat ini, karena ia bisa dengan leluasa mengamati seluruh aktivitas di tengah sibuknya kota Seoul.

Minran melambaikan tangannya, memanggil salah seorang pelayan café.

“Aku ke toilet dulu. Pesankan saja minuman yang biasa.” Sebelum Minran menjawab, Kyuhyun sudah pergi meninggalkannya sendiri.

“Hai.” Minran menoleh. “Mau pesan sesuatu?”

Rupanya, itu Kim Yeri, sahabat baiknya. Ia tahu gadis itu berkerja di café ini sejak setahun yang lalu. Yeri menyodorkan buku menu ke meja Minran.

“Kenapa bertanya lagi? Untuk apa buku menu ini? Kau kan sudah tahu pesananku,” ucap Minran pura-pura kesal.

Yeri memutar bola matanya. “Tentu saja aku hafal, nona Minie. Tapi aku pikir pesananmu akan berubah kali ini tanpa… ya, kau taulah tanpa dia.”

“Siapa bilang? Aku bersama Kyuhyun.” Yeri mengernyitkan dahi saat Minran mengatakan hal itu. Sesaat kemudian ia seperti teringat sesuatu dan raut wajahnya berubah cemas.

“Oh, benar. Kau masih bersamanya.” Yeri mengangguk canggung. “Jadi… dimana dia?”

“Ke toilet. Pokoknya, kau bawakan saja pesananku, nona Yeye.” Minran tersenyum geli saat mengucapkan kata terakhir. Yeri memang tidak menyukai nama panggilan itu. Tapi menurut Minran nama itu bagus.

“Ck, kalau begitu aku pergi dulu,” ucap Yeri sambil mengambil kembali buku menu dengan kasar dan terlihat kesal saat Minran menyebut nama yang sama sekai tidak lucu menurutnya.

Tepat saat Yeri pergi, Kyuhyun muncul dari balik pintu toilet dan menghampiri Minran, lalu duduk di hadapan gadis itu.

“Cepat sekali,” ucap Minran heran.

“Kenapa? Kau lebih suka aku berlama-lama di toilet?” goda Kyuhyun. Minran tertawa lepas mendengarnya.

Namun mendadak tawa Minran terhenti. Raut wajahnya berubah sedih. Ia menatap Kyuhyun dengan dengan pandangan sayu.

“Kenapa?” Tanya Kyuhyun lembut. Ia meraih tangan gadisnya dan mengusap perlahan.

“Kau tidak akan pergi, kan? Ki- kita akan selalu seperti ini, kan?

Kyuhyun terdiam sebentar, seperti sedang berpikir. Kamudian ia tersenyum. “Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Entahlah, hanya saja aku… a –aku takut kalau kau menghilang. a… aku–”

Perkataan Minran terhenti saar bibirnya terkunci dengan bibir Kyuhyun. Mendadak tubuhnya terasa hangat. Kyuhyun melumat bibirnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, lalu melepaskannya.

Meski hanya kecupan singkat, namun Minran merasa amat senang. Perasaannya menjadi lebih tenang dan hangat.

“Dengar,” ujar Kyuhyun terlihat serius. “Kau tidak perlu memikirkan apapun. Selama kita saling mencintai, hubungan ini akan baik-baik saja. Kita akan selalu bersama mulai sekarang, hingga kita beranjak tua. Kau harus meyakini itu. Selama kau mencintaiku, aku juga akan mencintaiumu, sampai kapan pun juga. Aku milikmu, dan kau milikku. Hanya itu.”

Minran mengatup mulutnya rapat-rapat, tak tahu harus mengatakan atau berbuat apa. Kyuhyun benar. Untuk apa ia mengkhwatirkan hal remeh seperti itu? Ia dan Kyuhyun salin mencintai dan saling memilikki. Itu saja sudah cukup untuk membuat mereka selalu bersama.

Kyuhyun tersenyum lembut saat menatap Minran. Gadis itu sudah mulai tenang.

Tetapi Kyuhyun tahu wajah tenang dan gembira milik kekasihnya itu tak akan bertahan lama. Entah sampai kapan. Bahkan, kata-kata Kyuhyun tadi sangat di luar dugaannya. Meluncur begitu saja. Meskipun, ia tidak yakin hubungan mereka akan bertahan sejauh apa.

*****

Nyonya Lee menggenggam lembaran surat kabar hitam putih dengan wajah sedih. Di halaman utama surat kabar itu tertulis besar-besar ‘KECELAKAAN TRAGIS BERUJUNG MAUT’. Pada ujung lembaran, tertulis tanggal dan bulan yang menujukkan waktu lima bulan lalu.

Lagi-lagi, dadanya terasa nyeri. Ia sudah lelah, lelah merasakan sakit di dadanya, dan terlalu lelah untuk sekedar meneteskan air mata. Tetapi, ibu mana yang tak hancur melihat putrinya terus menerus menderita, tenggelam pada sebuah kenyataan yang tak bisa diterimanya.

Pikirannya melayang-layang pada kejadian lima bulan lalu, saat-saat yang menjadi titik balik kehidupan Lee Minran.

*

*

Lima Bulan Lalu…

Sepuluh hari setelah kecelakaan itu, Tuan Lee dan Nyonya Lee duduk berdampingan di depan sebuah meja kaca yang terasa dingin. Di hadapan mereka, seorang dokter dengan name tag ‘Xi Luhan’ duduk dengan wajah gusar.

“Anak bapak dan ibu, Lee Minran baik-baik saja secara fisik. Tak ada luka ataupun cedera yang berarti,” ujar dokter itu. Namun terlihat jelas bahwa bukan itu persoalaan utamanya.

“Apa maksudnya secara fisik?” Tanya Tuan Lee, sama gusarnya.

     Dokter Lu menghela nafas berat. “Mungkin karena shock dan trauma yang dialaminya. Apalagi, perasaan pasien sedang terguncang akibat kehilangan orang yang sangat penting baginya. Mungkin otak pasien –”

     “Aku tidak butuh penjelasan apapun. Aku hanya ingin mengetahui nasib putriku,” tegas Tuan Lee, sementara Nyonya Lee mengusap lengan suaminya mencoba menenangkan.

“Langusng pada intinya saja,” ucap wanita itu.

     “Skizofrenia.” Ucap Dokter Lu. “Gangguan mental yang menyebabkan pasien berhalusinasi dan memiliki dunianya sendiri. Halusinasi tentang apa, saya sendiri tidak yakin. Tergantung pada pasien. Yah, bisa dibilang ini gangguan jiwa yang cukup serius. Jika semakin berlanjut, dapat berpengaruh buruk pada pasien dan lingkungannya.”

     Nyonya Minran menutup mulutnya. Seluruh tubuhnya bergetar, dan mulai menangis.

     “Kalau begitu, anda bisa menyembuhkan anak saya, kan?” desak Tuan Lee. Ia sama terguncangnya dengan Nyonya Lee, namun tetap berusaha tenang.

     “Sayangnya tidak. Maksud saya, itu bukan spesialis saya. Anda bisa membawanya ke psikiater. Biasanya ia akan diminta rawat inap agar dapat dikontrol.”

Tual Lee mengusap wajahnya, Nampak sangat sedih atas musibah yang dialami putri tunggalnya. Sementara Nyonya Lee masih terisak dan berusaha mengeringkan air mata yang terus menerus berjatuhan dengan Tisu.

“Baik, saya mengerti. Terima kasih.” Tuan Lee menjabat tangan Dokter Lu, lalu mengajak istrinya keluar dari neraka tersebut dengan perasaan kalut.

*

*

Lembaran surat kabar itu diremas-remas oleh Nyonya Lee hingga tak terbentuk, lalu dilemparnya ke sembarang arah hingga terbentur pada dinding dan mendarat di lantai, bersamaan dengan air matanya yang menyentuh pipi keriputnya

Ia ingin putrinya kembali seperti dulu lagi. Tapi tidak dengan Minran. Gadis itu belum bisa, atau bahkan tidak mau menerima kenyatataan yang ada. Itu terlalu berat baginya. Terlalu berat bagi seorang Lee Minran untuk kehilangan kekasihnya, Cho Kyuhyun.

*

*

“Tidak! Kalian bohong! Kyuhyun belum mati, dia sedang berdiri di sana menungguku!” Seru Minran sambil menunjuk ke arah pojok ruangan.

     Gadis itu tak terlihat secantik biasanya. Gaunnya kusut, rambutnya berantakkan, wajahnya basah oleh keringat dan air mata.

“Kami tahu ini berat bagimu. Tapi begitulah kenyataannya. Kau harus bisa menerimanya!”Kata Tuan Lee emosi. “Kyuhyun yang kau lihat di sana itu, tidak nyata! hanya halusinasimu. Kau harus terima jika ingin sembuh!”

     Tuan Lee masih berteriak berusaha menyadarkan putrinya, sementata Nyonya Lee berusaha menenangkan dan mengajak suaminya agar berbicara dengan lebih lembut. Namun, perhatian Minran sudah tak di situ.

Ia melihat Kyuhyun sedang melangkah ke arahnya. Pria itu tersenyum. Senyum indah yang membuat Minran ikut mengembangkan bibirnya.

     Kyuhyun mengelus pipi gadis itu dengan lembut. “Kau bisa merasakanku kan? Aku ini nyata. Aku akan selalu ada untukmu.”

Minran menangguk. Ia lalu menggenggam tangan Kyuhyun yang masih menyentuh pipinya.

     Tentu saja. Minran dapat merasakan hangatnya tangan Kyuhyun saat menyentuhnya. Ia bisa mendengar Kyuhyun berbicara dengan jelas. Lalu, bagaimama mungkin ayah dan ibunya sendiri mengatakan bahwa Kyuhyun sudah tidak ada?

“Mi… Minran… apa yang kau lakukan, nak?” Nyonya Lee bertanya dengan nada cemas saat menangkap gelagat aneh putrinya.

“Kalian mencoba membohongiku, kan? Kalian ingin mempermainkanku? Baru saja Kyuhyun mengatakan padaku bahwa ia nyata. Aku percaya padanya.”

     Tangisan Nonya Lee pecah. Tuan Lee hanya terdiam sambil mencoba mengatur nafasnya yang tak beraturan.

“Kau… harus ikut kami ke dokter. Sekarang juga.”Ucap Tuan Lee. Tenang, tapi tegas.

     Minran menggeleng, lalu mundur beberapa langkah. “Tidak. Aku tidak sakit. Jika mau, kalian saja yang ke sana.”

     Setelah mengucapkan kata terakhir, Minran berlalari, pergi dari sana meninggalkan kedua orang tuanya yang mematung.

*

*

Hari sudah sore saat Minran tiba dirumahnya. Senyumnya mengembang lebar di wajahnya yang berseri-seri.

Nyonya Lee menghampiri Minran. Senyum putrinya itu, seolah menutup kekosongan di hatinya, namun membuat lubang baru di sisi lain.

“Harimu menyenangkan?” Tanya Nyonya Lee berusaha terlihat peduli, meski ia tahu jawaban yang akan ia dapatkan malah membuatnya semakin sakit.

“Begitulah. Kyuhyun membelikanku bunga,”jawab Minran. Ia mengangkat sebelah tangannya, menunjukan setangkai mawar putih.

Nyonya Lee mengangguk, berpura-pura turut bahagia. Namun hatinya mencelus saat melihat tangan kosong anaknya. Tak ada mawar putih di sana.

“Lalu kami minum kopi dan makan kue bersama di cafe. Kemudian, Kyuhyun mengajakku ke taman yang biasa.”

Nyonya Lee mengangguk tegar. Sesungguhnya ia tidak tega jika harus merenggut senyum manis anakanya. Sejauh ini, hanya Kyuhyun yang dapat menciptakan senyum lebar di wajah Minran.

“Kau belum makan malam, kan?” Minran menggeleng untuk menjawab pertanyaan ibunnya. Dan sesaat kemudian, mereka telah melangkah menuju ruang makan.

Minran menarik salah satu kursi, lalu menduduki kursi tersebut yangmembuat posisinya kini berhadapan dengan Tuan Lee, ayahnya. Seperti biasa, Tuan Lee duduk dengan wajah merengut sambil membalikan piringya.

“Dari mana kau?” Tanya pria itu dengan suara berat dan tegas.

Minran tersenyum. Ia senang jika harus menceritakan kembali pengalamannya bersama Kyuhyun. “Jalan-jalan bersama Kyuhyun. Kami pergi ke beberapa tempat.”

Wajah Tuan Lee semakin merengut dan menunjukan ekspresi tak suka mendengar jawaban putrinya. “Ah, bersama pria khayalan itu lagi.”

“Namanya Kyuhyun, bukan pria khayalan.” Sergah Minran cepat. Kini suasana hatinya mulai berubah, tak sesenang beberapa detik lalu.

“Terserah lah siapa namanya. Yang jelas dia hanya khayalanmu, tidak nyata. Pria itu sumber kehancuran hidupmu. Padahal dulu aku menyukainya. Tapi setelah ia mati, aku malah berharap ia tidak pernah muncul di keluarga ini.”

Mata Minran memanas. Hatinya terasa amat sakit mendengar kekasihnya direndahkan oleh ayahnya sendiri. Benar-benar tidak bias diterima.

“Sudahlah, kita makan saja,” bujuk Nyonya Lee, panik saat merasakan perubaha atmosfer yang membuatnya tidak nyaman. Ia lalu mengusap-usap lengan Tuan Lee, sebagai isyarat untuk menghentikan perkataan-perkataan setajam belati milik suaminya itu.

“Tidak. Aku sudah tak berselera makan. Lagipula, harga diriku terlalu tinggi untuk makan semeja dengan orang yang menjelek-jelekkan kekasihku. Bahkan sampai mengatakan bahwa Kyuhyun telah meninggal. Bukankah itu sama saja menyumpahi orang lain? Kenapa kau setega itu pada orang yang berlaku baik pada putrimu?!” gebrakan pada meja makan terdengan tepat setelah Minran menyelesaikan kalimatnya. Pipi gadis itu telah basah oleh air mata. Matanya merah dan dadanya naik turun berusaha menormalkan jumlah oksigen yang yang keluar-masuk paru-parunya.

Dengan cepat, ia segera berdiri, menatap dengan tatapan benci pada ayahnya, lalu naik ke lantai dua meningalkan Tuan dan Nyonya Lee dalam keterkejutan mereka.

“Itu bukan menyumpahi, itu kenyataan!” Seru Tuan Lee kepada Minran, namun gadis itu telah menghilang di balik pintu kamarnya.

Sementara tak jauh dari sana, pria itu, pria yang menjadi topik panas pembicaraan keluarga Lee, Cho Kyuhyun, tengah berdiri memandangi setiap kejadian. Raut wajahnya bercampur antar sedih dan kesal. Entah kepada siapa. Tuan Lee, Nyonya Lee, Minran, atau… dirinya sendiri.

Di kamar, Minran tengah membenamkan kepalanya di antar kedua lututnya. Tubuhnya terduduk di lantai, tersandar pada tembok dingin bercat aqua blue. Tubuhnya berguncang, menandakan bahwa gadis itu tengah menangis.

Ia tidak dapat mengerti ayahnya. Sejak kecelakaan itu, emosi ayahnya menjadi cepat naik, apalagi jika sudah membicarakan Kyuhyun. Itulah yang tidak dimengerti oleh Minran. Ayahnya selalu mengatai Kyuhyun pria berengesek, penghancur, pria tak berperasaan, dan yang paling parah, Kyuhyun bukan manusia nyata, ia hanya halusinasi atau khayalan saja. Apa maksudnya itu?

Dengan tubuh lemas, Minran bangkit berdiri, lalu melangkah gontai menuju tas yang tergeletak di lantai akibat lemparannya. Ia merogoh tisu, lalu mengusap benda itu ke wajahnya dengan kasar untuk membersihkan sisa-sisa air mata. Lalu, ia merogoh ponsel putih miliknya.

Dengan cekatan ia mencari kontak dengan nama Cho Kyuhyun. Setelah mendapatkan kontak tersebut, dengan lincah jari-jarinya mengetik pesan untuk pria itu.

Temui aku di taman. Sekarang juga.

TBC

Absurd kah ff ini? Terlalu pendek kah? Mian T_T author kehabisan ide untuk cerita selanjutnya. Jadi author putusin untuk author membagi ff ini jadi 2 chapter (two shoot).

Btw ff ini terinspirasi dari sebuah drama. Ada yang bisa tebak dramanya? Hehe..

Ditunggu ya chapter selanjutnya… jangan lupa comment di bawah.

~ Thank You ~

Advertisements

16 thoughts on “[Twoshoot] The Fact (Part 1)

  1. Kasihan juga Minran, kenapa Kyuhyun secepat itu perginya. Padahal masih ingin lihat moment kebersamaan mereka. Minran bukan berkhayal, tapi memang Kyuhyun ada hanya Minran saja yg bisa melihat.nya.. jadi sedih bacanya..

    • Bisa dibilang gitu sih. Skizo itu gangguan jiwa yg bikin penderitanya mengalami halusinasi (semacam itu) ^^

      Btw, thx udah mampir. Ditunngu next partnya ya ^-^

  2. Wahh baru prtama kali baca tulisan dngan crita kya gini… 😮 Aku blum prnah nntn Drama ny lgi, cuma prnah tau..
    Kasian bnget Minran bner” ditinggal Kyuhyun .. 😦
    Bner” sad n bkin pnasaran.. Ditunggu next part nya… 🙂

    *Hai aku reader baru disini, bangapta 🙂

  3. Aku suka cerita spt ini.
    Kasihan minran!! Padahal waktu baca pas awal” seru, sifat kyuhyun yg sangat mencintai minran. Eh, setelah itu meninggal.
    Dan untuk drama nya aku sudah pernah nonton, jd aku mikirnya ke drama. Di tunggu part 2 nya.

    ReaderReader baru di sini!! ANYEONGHASEO 😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s