[Twoshoot] The Fact (Part 2 – End)

                PicsArt_1432105096144

Romance, Sad

_ _ _ _ _

Kyuhyun berdiri mematung, menatap Minran yang berjarak tujuh meter darinya. Gadis itu tengah duduk di sebuah kursi taman sambil menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Dari tubuhnya yang bergetar, Kyuhyun tahu gadis itu tengah menangis.

Pria itu meremas dadanya. Sakit. Dadanya terasa sakit melihat Minran menangis, dan gadis itu menangis karena Kyuhyun. Tanpa disuruh, air mata Kyuhyun jatuh membasahi pipi pucatnya. Ya, ini salahnya. Seharusnya ia tidak kembali. Seharusnya ia bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah meninggal.

*

*

     Lima bulan lalu…

     Kyuhyun terbangun. Ia sedikit merintih kesakitan saat sekujur tubuhnya terasa amat sakit saat digerakkan. Setelah sakitnya mereda, pria itu mulai memandang sekitarnya, mencari tahu apa yang terjadi.

     Ia sedang terduduk di aspal. Disekelilingnya terdapat sekerumunan orang-orang yang tak dikenalnya. Ada yang terlihat panik, ada yang menangis, ada yang terlihat ketakutan, dan kebanyakan orang sedang memandangya dengan tatapan sedih.

     Tak jauh darinya, sebuah mobil berwarna silver telah hancur dan berubah menjadi sama dengan besi tua. Masih terdapat asap yang keluar dari mesin mobil.

     Kemudian ia melihat sebuah mobil putih dengan orang-orang berpakaian medis yang tengah menurunkan sebuah brankar dorong dari dalam ambulans dan medorongnya ke arah seorang gadis yang tergelak di atas aspal, 1 meter dibelakangnya. Minran!

     Kyuhyun segera berlari ke arah Minran. Entah kemana perginya rasa sakit yang sempat ia rasakan tadi. Kyuhyun tak peduli.

     “Minran!” Seru Kyuhyun. Minran tergeletak tak berdaya. Tubuhnya dipenuhi lika-lika dan kepalanya mengucurkan darah yang cukup bayak hinggan menggenang di aspal.

     Kyuhyun ingin menggenggam tangan gadisnya itu. Tapi tidak bisa. Kyuhyun berusaha menyentuh tangan Minran berkali-kali tapi yang ia genggam hanya udara kosong.

     Tidak. Tidak mungkin.

     Kyuhyun berdiri menatap kedua tangannya sendiri. Ia kemudian mencoba menyentuh seorang tenaga medis yang sedang merasakan denyut nadi di leher Minran. Namun hasilnya sama saja. Kyuhyun  tak bisa menyentuh apa pun.

    Tidak. Tidak mungkin.

     Kyuhyun memutar tubuhnya dengan cepat, melihat ke arah tempat pertama kali ia terbagun. Dan di sana, tergeletak tubuh Kyuhyun. Berismbah darah, jauh lebih banyak dari milik Minran, membentuk kolam darah di aspal.

     Disekelilingnya, para tenaga medis melakukan hal yang sama dengan yang mereka lakukan pada Minran. Setelah beberapa saat, seorang tenaga medis yang sedari tadi merasakan denyut nadi       Kyuhyun mengangkat wajahnya, menatap ke arah tenaga medis lain dihadapannya. Ia menggelengkan kepala. Seketika raut wajah penuh harap mereka berubah dengan raut wajah kecewa dan sedih.

     Tidak. Tidak. Tidak.

     “Ia masih hidup. Tapi kita harus cepat,” ujar tenaga medis dibelakangnaya. Kemudian Kyuhyun menyaksikan kedua tubuh itu –tubuh Kyuhyun dan tubuh Minran diangkat perlahan-lahan ke atas brankar. Bedanya, Minran langsung diberi alat bantu pernapasan dan beberapa pertolongan pertama oleh para tenaga medis, sementara tubuh Kyuhyun diselimuti oleh kain putih dengan perlahan-lahan.

     Kyuhyun merasa lemas. Ia harap semua ini hanya mimpi. Ya, ini pasti mimpi. Ia harus terbangun dari mimpi buruk ini. Kyuhyun kemudian menampar pipinya sendiri. Ia terus menampar dan menampar pipinya sambil menangis layaknya anak kecil.

      “Kau terlihat bodoh,”ujap sebuah suara. Kyuhyun segera menghentikan kegiatannya itu, lalu mencari-cari sumber suara.

     Di kanannya, seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di atas trotoar dan menatap tepat ke arah Kyuhyun. Kyuhyun menoleh ke belakang, memastikan bahwa pria itu tak sedang berbicara dengannya. Namun di kirinya, kerumunan orang-orang itu sedang sibuk sendiri.

     “Aku berbicara denganmu, bung,” ucap pria itu lagi. Kini ia sudah berada tepat di hadapan Kyuhyun, entah sejak kapan.

      “Perkenalkan, aku Key.  Malaikat pencabut nyawa dengan pengalamn kerja satu bulan dan banyak kasus kematian yang telah kutangani adalah 39. Kau yang ke 40. Selamat,” sambung pria bernama Key itu sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak Kyuhyun bersalaman.

      Namun Kyuhyun tetap bergeming. Ia masih terlalu shock dengan kenyataan bahwa ia telah meninggal, dan kini seorang pria kurus aneh yang mengaku sebagai malaikat pencabut nyawa dengan pakaian serba hitam dan rambut dicat biru datang kepadanya.

     “Kau akan membawaku?” tanya Kyuhyun setelah mendapat kesdarannya kembali.

     “Yup. Baguslah kau langsung mengerti. Jadi, ayo kita pergi.”

     Sebuah lubang yang bercahaya muncul di belakang Key tepat setelah ia menyeleksaikan kata terakhirnya. Key berbalik dan melangkahkan kakinya, hendak masuk ke dalam lubang itu. Namun lagi-lagi, Kyuhyun tetap bergeming.

     Merasa tak diikuti, Key berbalik menatap Kyuhyun.

     “Tenanglah. Lubang ini aman, kok. Aku sudah melewatinya puluhan kali. Yah, walaupun kuakui agak silau di dalam sana. Tapi kau bi- “

     “Aku tidak mau pergi,” ucap Kyuhyun.

     Key terdiam. Mencoba mencerna kata-kata Kyuhyun.

     “Oh, ayolah, bung. Jangan membuat pekerjaanku makin sulit. Terima saja kenyataan dan ikut aku,” ujar Key.

     “Sudah kubilang aku tidak ingin pergi.”

     “Ck, lalu apa? Apa yang kau mau? Kau harus tiba tepat waktu atau bosku akan murka. Biar kuperingatkan, bosku akan lebih menyeramkan dari guru killer di sekolahmu saat sedang murka.”

     “Aku ingin hidup,” ucap Kyuhyun cepat.

     Key memutar bola matanya. “Kau tahu, itu mustahil. Manusia yang mati tak dapat hidup lagi. Bosku- “

     “Bilang pada bosmu aku ingin hidup! Biarkan aku bersama dengan kekasihku!” seru Kyuhyun.

     “Wow, wow, wow. Ok,ok. Settle down your emotion. Tunggu di sini. Aku akan segera kembali.”

     Key kemudian melangkah ke balik lubang cahaya yang masih terbuka. Setelah beberapa menit. Ia kembali.

     “Kau beruntung. Bosku baru saja menang lotre dan kini suasana hatinya sedang baik. Dia memberi waktu 3 bulan kepadamu.”

     “6 bulan. Beri aku waktu 6 bulan atau aku tidak akan ikut denganmu.”

     “Ya ampun, kau client yang benar-benar keras kepala. Kau pasti telah dimabuk cinta,” goda Key. “Aku akan kembali.”

     Kali ini, Key kembali lebih cepat.

     “Wah, kau benar-benar beruntung. Sayangnya bosku hanya memberi waktu 5 bulan. Jika kau meminta lebih, maka ia akan menyuruh pengawalnya untuk membawamu secara paksa. Bagaimana?”

     “Ok,” jawab Kyuhyun singkat.

     “Baiklah, bung. Good luck. Sampai bertemu 5 bulan lagi,” ujar Key. Ia lalu masuk kedalam lubang cahaya dan menghilang bersamaan dengan tertutupnya lubang cahaya itu. Namun, baru sedetik lubang itu menghilang, benda itu muncul lagi dan kepala Key menyembul.

     “Hanya informasi, bung. Satu-satunya orang yang dapat melihatmu hanya kekasihmu.” Ucap Key, dan ia menghilang setelahnya.

*

*

Kyuhyun menarik nafas dalam-dalam. Ia yang memulainya. Maka kini ia yang harus menyelesaikanya.

Baru saja Kyuhyun akan melangkah, sebuah lubang cahaya muncul dan dari dalamnya muncul seseorang yang paling tidak ingin Kyuhyun liat saat ini.

“Hai, “ ucap Key dengan senyum cerahnya. “Lama tak bertemu. Saatnya kau pergi.”

“5 menit,” ucap Kyuhyun lemah. “Beri aku waktu 5 menit dan setelahnya aku akan ikut denganmu.”

Key agak ragu. Ia terlihat berpikir. Tak lama, Key mengangguk.

“Baiklah. Berhubung kau client terakhirku hari ini, jadi kuberi kau waktu tambahan. 5 menit saja.”

Setelah itu, Kyuhyun langsung melangkah menuju Minran dengan terburu-buru, tak ingin membuang 5 menit berharganya.

Minran agak terkejut saat sebuah tangan dingin menyentuh tangannya. Tapi ia tahu betul siapa pemilik tangan yang telah menyentuh tangannya. Dengan semangat, ia mengangkat kepalanya.

“Kyu!” seru gadis itu gembira. Dengan ceketan, ia segera memeluk Kyuhyun dengan erat.

“Kyuhyun merasa nyaman dengan peluka gadis yang dicintainya itu. Tapi ia ingat waktunya tak banyak. Dengan sedikit paksaan, Kyuhyun melepas peluka Minran dan menatap tepat di kedua manik mata gadis itu.

“Kau menangis,” bisik Kyuhyun.

“Ayahku melakukannya lagi dan aku tak terima.”

Kyuhyun menarik nafas.  “Dengar, Minran. Ayahmu tak sepenuhnya salah. Aku memang tidak seharusnya ada di sini.”

Minran menatap Kyuhyun bingung.

“Aku.. seharusnya memang sudah mati.”

“Tidak Kyu, tidak! Kau ada di sini, bersamaku. Kau hidup, Kyu! Jangan dengarkan ayahku.”

Kyuhyun dapat melihatnya. Kesungguhan di mata gadis itu. Apa yang kau lakukan, Kyuhyun bodoh.

“A –aku tahu kau sulit menerimanya. Tapi itu kenyataannya. Aku sudah mati. Ini bukan tempatku. Aku harus pergi.”

“Tidak, Kyu. Kau tidak boleh pergi. Jika harus, bawa aku bersamamu.”

“Minran!” Kyuhyun meninggikan suaranya. Ia merasa agak takut saat Minran ingin ikut bersamanya.

“Aku sudah mati. Aku harus pegi ke dunia lain. Dunia ini sudah bukan tempatku lagi.” Suara Kyuhyun agak tercekat saat mengatakannya. Tak jauh darinya, Key sedang melambaikan kedua jarinya.

“Aku ingin kau mendengarku, Minran,” ucap Kyuhyun. “Aku ingin kau kembali ke kehidupanmu yang dulu dan –“

“Tidak bisa. Dikehiduapnku yang dulu, kau selalu ada,” potong Minran.

“Kalau begitu aku ingin kau memulai hidup baru tanpaku. Jalani hidup yang jauh lebih baik dari 5 bulan terakhir ini. Perbaiki hubunganmu dengan kedua orang tuamu. Katakan pada mereka bahwa kau baik-baik saja. Katakana bahwa mereka benar, bahwa aku telah…” Kyuhyun menelan salivanya. “Aku telah mati. Dan berkumpulah bersama teman-temanu dan lakukan hal-hal menyenangkan. Kau boleh bersedih, tapi tolong jangan lama-lama. Aku akan hancur jika melihatmu terus bersedih. Kau harus menjadi Lee Minran yang selalu tersenyum dan kuat seperti sebelumnya.”

Minran menangis. Ia menatap kedua bola mata Kyuhyun, berusaha mencari kebohongan di sana. Tapi Kyuhyun bersungguh-sungguh. Gadis itu tahu betul raut wajah Kyuhyun saat sedang serius. Hatinya semakin hancur.

“Kyu, tolong. Apa tidak ada acara lain? Kau bisa terus di sini bersamaku dan aku akan melakukan apa yang kau lakukan,” ujar Minran memelas. Tangannya menggenggam tangan Kyuhyun, berusaha menahan meyakinkan pria itu agar tak pergi.

“Maaf, tapi aku memang tidak seharusnya di sini. Seharusnya aku sudah pergi 5 bulan lalu. Aku hanya mendapat sedikit keberuntungan dan kini keberuntungan itu sudah habis.”

Kali ini, Key mengangkat tangannya tinggi-tinggi membentuk tand silang.

Kyuhyun kemudian memajukan kepalanya, menyentuh bibir gadis itu dengan bibirnya dan melumatnya lembut. Namun tidak lama. Hanya beberapa detik dan Kyuhyun langsung melepaskan ciumannya. Ia takut jika lebih lama lagi, maka pikirannya akan berubah dan tak ingin melepaskan gadis itu.

Namun Minran masih menginginkannya. Dengan paksa, gadis itu mendorong leher Kyuhyun lebih dekat ke arahnya dan kembali melumat bibir pria itu, kali ini dengan penuh ganas karena emosi yang bercampur aduk.

Belum sempat Kyuhyun membalas ciuman Minran, gadis itu merosot dan jatuh ke tanah, tak sadarkan diri. Dan kini di hadapan Kyuhyun terdapat Key yang sedang berpura-pura terkejut.

“Ups. Kupikir kau butuh bantuan,” ucap Key seraya mengangkat kedua bahunya.

Kyuhyun menarik nafas dan mengembuskannya dengan kuat, lalu berjalan melewati Key. “Ayo kita pergi.”

Key tersenyum dan mengikuti Kyuhyun. “Aku turut berduka, bung. Tapi inilah yang terbaik. Aku yaki gadis itu akan baik-baik saja.”

“Tanpa kau katakan pun aku tahu ia akan baik-baik saja. Dia gadis yang kuat,” sergah Kyuhyun.

“Dannn sekarang waktunya,” ujar Key. Ia masuk duluan ke dalam lubag cahaya lalu menyembulkan kepalanya. “Ayo, kau juga.”

Dengan mantab, Kyuhyun melangkah masuk. Kaki kiri, lalu kaki kanannya hingga seluruh tubuhnya hilang dan lubang cahay itu tertutup.

End.

AKU KEMBALIIII !!!!!  setelah setahun akhirnya blog ini update juga *bersihin sarang laba-laba*

Akhirnya author kembali dengan ff gaje dengan TYPO YANG BERTEBARAN DIMANA-MANA T_T

Author emang lagi sibuk-sibuknya sekolah. Tugas dan ulangan numpuk. Kalau pun liburan feel buat nulis malah nggak ada. Jadi dari pada maksa dan hasilnya jelek, mending nunggu sampai niat buat nulis ada dan feelnya lagi dapet.

Semoga kalian nggak kecewa ya sama ceritanya. Author tau ff ini pendek dan jelek, tapi tolong jangan bully authorrr *lebay*

Ok sekian ya curcolan author. Ditunggu ya ff selanjutnya. Dan jangan lupa COMMENT. karena komen kalian sangat berarti untuk author dan dapat memboost semangat. ANYEONGGG ^^

 

Epilog

Cring!

Suara lonceng di atas pintu sebuah café berbunyi saat seorang gadis membuka pintu itu.

“Minie!” seru seorang gadis berpakaian layaknya pegawai di café ini.

“Sudah sebulan aku tak melihatmu. Aku khawatir.” Ucapnya sambil memeluk erat gadis yang baru datang itu.

“Yeri-ah. Lepaskan atau aku akan memanggilmu dengan sebutan Yeye keras-keras.”

“Yak. Sahabatmu ini khawatir dan kau malah mengancamnya,” ujar Yeri cemberut.

“Hahaha.. Maaf. Tapi bisakah kau membiarkanku duduk dulu?” gadis itu, Lee Minran, tersenyum ke arah Yeri.  Senyum yang membuat Yeri merasa senang.

“Pesan apa?” tanya Yeri saat Minran telah duduk di meja yang biasa ia duduki bersama kekasihnya, Kyuhyun.

“Seperti biasa,” jawab Minran. Yeri terlihat agak terkejut. Hal itu membuat Minran terkekeh melihat ekspresi wajah Yeri yang selalu lucu.

“Kali ini hanya 1 porsi,” lanjut Minran yang dibalas senyuman bahagia oleh Yeri.

I know you can do it,” ucap Yeri. Dengan sigap, ia berbalik untuk membuat pesanan Minran.

Setelah ditinggal sendiri, Minran terdiam. Ia memandang kursi kosong dihadapannya. Kursi yang biasanya diduduki oleh Kyuhyun. Tanpa aba-aba, air mataya menetes dan segera ia hapus dengan punggung tangannya. Kyuhyun bilang ia harus menjadi gadis kuat.

Minran tahu semuanya tak akan lagi sama setelah Kyuhyun pergi. Tapi ia akan terus mencoba menjadi gadis yang selalu tersenyum dan selalu kuat, seperti kata Kyuhyun.

Advertisements

One thought on “[Twoshoot] The Fact (Part 2 – End)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s