[Oneshoot] Learn

PicsArt_1507302784002-1

Oneshoot, Romance, Sad

_ _ _ _ _

Kerumunan orang yang yang makin membesar membuat seorang gadis cantik kewalahan. Ia akan terus terdorong ke belakang jika tak memaksa tubuh mungilnya itu ke luar dari kerumunan. Setelah beberapa saat, akhirnya ia berhasil keluar dari kereta bawah tanah di Jepang yang terkenal karena selalu penuh sesak.

Gadis yang bernama Lee Minran itu agak terhuyung karena tidak terbiasa. Setelah itu, ia mulai menata sedikit rambutnya dan memperbaiki letak blazer creamnya yang agak terbuka karena berdesak-desakan.

Ia kemudian merogoh ponsel putih keluaran terbarunya dari dalam tas hitam Chanel yang baru ia beli minggu lalu.

Pukul 3. Masih ada waktu sekitar 1 jam lagi hingga ia bertemu pria itu.

Minran terkekeh. Sesemangat itukah dirinya bertemu dengan pria yang sudah lama tak ditemuinya itu hingga ia rela datang 1 jam lebih awal? Tapi tak apa. Toh ia juga ingin menyendiri dulu di luar, bukan di hotel yang telah ia diami seharian kemarin..

Dengan gembira, ia berjalan menuju Yoyogi Park, tempat pertemuannya dengan Kyuhyun. Ya, Cho Kyuhyun, teman masa kecilnya hingga dewasa yang sudah dua tahun tak ditemuinya.

Lagi-lagi Minran tersenyum saat mengingat ia akan bertemu dengan Kyuhyun. Sungguh, ia benar-benar merindukan pria itu. Tak bisa dipungkiri rasa senangnya saat perusahaannya tempat ia bekerja, sebuah perusahaan elektronik terbesar di Korea, menugaskannya ke Jepang untuk mengadakan kerja sama dengan perusahaan Jepang yang juga bergerak di bidang yang sama.

Namun persetan dengan tugasnya itu. Yang terpenting, kurang dari 1 jam lagi ia akan bertemu dengan Kyuhyun. Sekarang, itulah yang terpenting.

Sesaat langkah Minran terhenti. Ia telah sampai di Yoyogi Park, sebuah taman yang cukup tenang untuk ukuran taman yang terletak di tengah kota. Dan sekarang pertengahan April, yang artinya musim semi. Ia bisa melihat bunga-bunga sakura bermekaran dengan indahnya, berjejer di sepanjang taman.

Senyum gadis itu kembali merekah, kali ini menampakan giginya yang berbaris rapi. Ah, Kyuhyun… pria itu tahu betul tentang kecintaan Minran terhadap bunga sakura. ia memang bisa menyaksikan bunga sakura di Seoul, tetapi melihat sakura langsung di tempat asalnya memiliki sensasi tersendiri.

Minran ingat, dulu, saat ia dan Kyuhyun berumur tujuh tahun, Minran pernah mengajak Kyuhyun ke sebuah taman dekat rumah mereka yang memiliki sebuah pohon sakura. saat itu musim semi dan bunga-bunga sakura bermekaran.

Selama hampir dua jam, Minran terus menatap ke arah pohon sakura sambil mengoceh tentang betapa indahnya sakura itu. Sementara di sampingnya, Kyuhyuh hanya terdiam sambil membaca majalah anak yang baru saja dibelikan ibunya.

Saat itu, Kyuhyun benar-benar marah kepada Minran. Kyuhyun sebenarnya tak ingin menemani gadis itu, tetapi Minran terus memaksanya dengan iming-iming poster tokoh kartun kesayangan Kyuhyun yang sudah tidak dijual lagi.

Kyuhyun bahkan rela duduk di sana selama berjam-jam, di tempat yang sama sekali Kyuhyun benci. Tempat yang ramai dan berisik, tempat di mana orang-orang terus menatap mereka dengan tatapan geli.

Saat itulah Minran belajar bahwa seseorang akan rela melakukan segalanya demi sesuatu yang ia cintai. Bahkan meski tantangan dan rintangan yang dilalui sukar untuk dilewati, namun tak  ada  apa pun yang dapat menghambat seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang ia dambakan.

Dan saat itulah, Minran, seorang anak perempuan berumur 7 tahun sadar bahwa ia harus kuat dan tidak menyerah dalam mendapatkan hati anak lelaki yang disukainya, Cho Kyuhyun.

Minran tertawa kecil mengingat masa lalunya. Benar-benar polos. Namun siapa sangka perasaan sukanya itu akan bertumbuh menjadi lebih dari sekedar suka.

Ia kemudian berjalan menyusuri taman sambil kedua bola matanya tak lepas dari bunga-bunga sakura yang menurutnya lebih indah dari perhiasan manapun.

DUK!!

“Aw!” Miran memegangi kepalanya yang terasa sakit.

Sumimasen,” ucap seorang anak laki-laki yang entah sejak kapan sudah berada di samping Minran. Gadis itu sama sekali tak pandai berbahasa Jepang, tapi ia tahu beberapa kata umum, salah satunya adalah kata yang barusan diucapkan anak itu yang berarti maaf.

Minran hanya tersenyum dan mengangguk kepada anak lelaki itu, lalu beranjak pergi. Sesaat tadi, anak itu mengingatkannya pada Kyuhyun.

Saat mereka masuk ke Sekolah Menengah Atas, entah sejak kapan Kyuhyun tergila-gila pada sepak bola. Setiapa hari, sepulang sekolah, Kyuhyun dan teman-temannya akan bermain sepak bola di lapangan sekolah hingga hari mulai gelap dan penjaga sekolah mengusir mereka.

Suatu saat, Kyuhyun murung selama berhari-hari. Sepatu bola yang telah ia pakai setahun belakangan rusak. Hal itu membuat Kyuhyun begitu sedih dan kehilangan hasrat untuk bermain sepak bola. Awalnya Minran menganggap Kyuhyun berlebihan. Tapi melihat betapa sedihnya pria itu membuat Minran menjadi iba.

Membeli sepatu baru? Tentu bisa jika Kyuhyun meminta kepada ibunya. Tapi Minran tahu betul pria itu tak mau memberatkan ibunya untuk hal-hal yang menurutnya bukan suatu keharusan. Apalagi, sejak ayah Kyuhyun meninggal dua tahun lalu, Kyuhyun makin merasa iba kepada ibunya yang harus berjuang sendirian.

Mendadak sebuah ide muncul di kepala Minran. Gadis itu akan membelikan Kyuhyun sepatu bola yang baru. Ia memiliki tabungan yang sengaja ia kumpulkan untuk membeli tujuh seri novel penulis favoritenya.

Tapi mungkin novel-novel itu dapat menunggu. Dan beberapa hari kemudian, Minran memberikan Kyuhyun sepasang sepatu bola bermerk dengan kualitas yang lebih bagus dari sepatu Kyuhyun sebelumnya.

Minran ingat betul reaksi pria itu. Kyuhyun langsung memeluk gadis itu dengan erat, mengucapkan terima kasih berulang-ulang, dan diakhiri kalimat “aku menyayangimu”

Saat itulah Minran belajar bahwa cinta dapat membuat seseorang mengorbankan segala sesuatu untuk kebahagiaan orang yang dicintainya. Ya, saat itulah Minran sadar bahwa ia mencintai Cho Kyuhyun.

Minran tersenyum. Namun bukan senyuman bahagia, tetapi lebih seperti senyuman miris. Ia terhenti sebentar dan mengadahkan wajahnya ke atas untuk menghentikan air mata yang hampir terjatuh.

Minran baru saja akan melangkahkan kakinya saat matanya menangkap siluet tubuh seorang pria yang sangat ia hafal pemiliknya. Tubuh yang jangkung, kulit yang pucat dan rambut hitam yang sengaja dibiarkan berantakan namun terlihat seksi di mata Minran. Pria itu tengah melangkah ke arahnya sambil menengok ke kiri dan ke kanan, seolah mencari seseorang.

“Kyuhyun !!” Minran berteriak sekuat tenaga untuk memastikan pria itu mendengarnya. Benar saja, Kyuhyun dengan segera melihatnya. Dengan senyum manis khasnya, pria itu segera berlari ke arah Minran.

Tak ingin hanya berdiam diri menunggu Kyuhyun, Minran juga ikut berlari sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Hanya selang beberapa detik, kedua tubuh mereka saling bertemu dan mereka saling berpelukkan dengan sangat erat.

Minran terus memeluk Kyuhyun dengan sangat erat. Ia tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang memandang mereka dengan tatapan aneh melihat pria dan wanita dewasa yang tengah berpelukan seperti anak kecil. Rasanya, ia bisa memeluk tubuh pria ini untuk selamanya. Minran benar-benar rindu dengan kehangatan tubuh Kyuhyun yang dulu sering ia rasakan.

Namun tak lama, lagi-lagi ia menangkap sosok wanita muda yang tengah melangkah ke arah mereka sambil menggendong seorang anak perempuan. Mendadak, hati Minran yang tadinya terasa amat bahagia, kini terasa amat sakit. Dengan enggan, ia melepaskan pelukannya.

“Yak! Kemana saja kau, hah? Teleponku tak pernah diangkat, pesanku tak pernah dibalas. Selama dua tahun ini aku tak pernah mendengar suara atau melihat wajahmu. Kau tau betapa khawatirnya aku? Apa yang terjadi padamu? Apakah kau sakit? Beri tahu aku jika ada yang menganggumu, pasti akan kubantu. Kau tak tahu betapa senangnya aku saat kau meneleponku bulan lalu dan mengatakan ingin bertemu.”

Minran tersenyum. Ia selalu senang dengan perhatian dan ketulusan Kyuhyun. Ia tentu tahu bahwa Kyuhyun mengakhawatirkan dirinya karena sempat menghilang. Gadis itu menatap mata Kyuhyun dalam-dalam, seolah memuaskan rasa hausnya akan pandangan mata Kyuhyun yang merupakan favoritnya sejak dulu.

“Jadi, kenapa kau menghilang?” Tanya Kyuhyun, saat rentetan pertanyaannya tadi tak dijawab Minran.

“Hmm… hanya beberapa masalah pekerjaan,” jawab Minran. “Aku baik-baik saja.”

Kyuhyun mengernyitkan dahi, seolah masih merasa janggal. Namun melihat senyuman manis Minran, ia tak bisa melakukan apa pun.

“Baiklah, tapi jangan menghilang lagi seperti itu. Kau membuatku takut, ok?” Ujar Kyuhyun, lalu meletakan tanggannya di kepala Minran.

Minran menggigit bibir bawahnya saat tangan Kyuhyun menyentuh kepalanya. Gadis itu meringis saat berbagai parasaan bercampur dalam hatinya, membuat kepalanya sedikit pusing. Tidak, alasannya menghilang sama sekali bukan karena masalah pekerjaan, dan ia tak mungkin memberitahukan hal itu kepada Kyuhyun karena…

“Hei, kau sudah sampai. Maaf meninggalkanmu tadi.”

Minran mendongak mendengar Kyuhyun berbicara dengan seseorang. Jantungnya semakin berdegup kencang dan tubuhnya semakin lemas saat melihat wanita yang dilihatnya tadi kini berdiri di hadapannya.

“Perkenalkan, ini sahabatku,  Lee Minran. Minran, ini istriku, Seohyun dan anakku, Yeri.” Ucap Kyuhyun terlihat bersemangat memperkenalkan dua wanita penting di hidupnya itu.

“Seohyun,” ucap Seohyun sambil mengulurkan tangannya. Minran terdiam menatap telapak tangan Seohyun yang terbuka. Ada perasaan tak nyaman dalam dadanya, dan ia benar-benar tidak mau menjabat tangan wanita yang merupakan istri Kyuhyun, pria yang lebih dulu Minran cintai.

Tidak, ia tak membenci Seohyun. Ia lebih membenci dirinya sendiri yang belum bisa menerima kenyataan. Waktu dua tahun yang ia gunakan untuk menyambuhkan hatinya yang terluka kini sia-sia, karena luka itu kembali terbuka, bahkan lebih dalam.

Minran ingat betul. Dua tahun lalu, tiga bulan setelah Kyuhyun pergi ke Jepang, Ibu Kyuhyun menelepon ibunya sambil menangis dan mengatakan bahwa Kyuhyun talah melakukan kesalah besar. Saat berpesta dengan teman-temannya, Kyuhyun benar-benar mabuk dan tanpa sadar telah menghamili seorang gadis yang umurnya tiga tahun lebih muda dari Kyuhyun. Mau tak mau, mereka harus menikah.

Minran mengadahkan wajahnya, menatap Seohyun. Senyum getirnya terukir. Ia sama sekali tak bisa mengalahkan Seohyun. Gadis itu pasti juga tersiksa karena harus menikah dan mengurus anak diusianya yang muda. Ini semua adalah konsekuensi yang harus ditanggung Kyuhyun. Sayangnya, konsekuensi itu berimbas juga pada Minran dan kini gadis itu tak dapat berbuat apapun, dan tak dapat menyalahkan siapapun.

Dari sini, ia belajar satu hal. Semua orang bisa dan berhak mencintai siapapun. Namun, setiap manusia tak dapat mengendalikan segala sesuatu yang terjadi karena seseorang yang kita cintai itu belum tentu akan menjadi milik kita selamanya. Yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan yang terbaik, dan menerima apapun hasilnya.

Senyum getir Minran kemudian berubah menjadi senyuman manis. Tangannya terangkat, dan menggenggam tangan Seohyun.

“Minran.”

End.

Hai, author balik lagiiii hehehehehehehehe *bersihin debu

Udah 7 bulan loh, author nggak come baek, nggak ada yang kengen, nih?

Btw semoga suka ya, sama ceritaya. Author tahu ff kali ini maksanya minta ampun, dan kata-katanya cheesy banget dan bikin bulu kuduk merinding (kalo kalian punya bulu). Maaf banget karena sejujurnya author ini fakir cinta yang hanya bisa menunggu kepulangan oppa” di korea. Sorry kalo nggak sukaaaa ><

Jangan lupa COMMENT di bawah, yaaa karena author suka banget baca komen” kalian. Tolong komen yang positif aja!

Well, sekian Dari author… ANYEONG! ^^

 

Epilog

Kyuhyun memaksakan senyumnya melihat Minran menjabat tangan Seohyun sambil tersenyum manis. Rasa penyesalan seolah mendobrak rongga dadanya yang kini terasa amat sesak. Minran bodoh! Kuyuhyun benar-benar benci melihat Minran tersenyum seperti itu dikala hati gadis itu pasti sedang terluka karena dirinya.

Ya, Kyuhyun tahu betul mengapa Minran menghilang selama dua tahun. Itu semua karena tindakan bodoh Kyuhyun sehingga gadis itu harus tersiksa sendirian. Setidaknya gadis itu merasa ia tersiksa sendirian, namun sebenarnya Kyuhyun juga sama tersiksanya. Ia sangat mencintai Minran, dan ia tahu bahwa gadis itu juga mencintainya. Dua tahun lalu, rencanya Kyuhyun ingin menyatakn cintanya pada Minran sepulang dari Jepang. Namun, semuanya hancur dalam semalam karena tindakannya yang benar-benar bodoh dan sangat ia sesali.

Tetapi Kyuhyun tak ingin menunjukkan rasa sakitnya kepada Minran, karena hal itu justru akan membuat Minran semakin tersiksa. Setidaknya, jika Kyuhyun berlagak bahagia, gadis itu memiliki seusatu untuk menghibur diri saat melihat pria yang dicintainya bahagia.

Kyuhyun belajar bahwa dalam hidup, terdapat berbagai pilihan, dan pilihan yang kita buat akan sangat menentukkan masa depan kita. Kyuhyun telah memilih pilihan yang salah dan kini ia harus belajar menerimanya. Ia harus belajar untuk mencintai Seohyun dan Yeri dan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik.

Setelah kedua gadis itu selesai berjabat tangan, Kyuhyun menepuk pundak mereka.

“Nah, apa kalian lapar? Aku tahu tempat makan yang enak di sekitar sini.”

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “[Oneshoot] Learn

  1. Emng cinta nggak hrs memiliki, tp nggak gmpang jg liat orang yg kita cintai dgn wanita lain. Yaeeeelahh pagi1 bahasanya kkkkkkkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s