[Oneshoot] God’s Puzzle

PicsArt_15075610944410

Romance, oneshoot

_ _ _ _ _

Kening Marcus berkerut, membentuk guratan-guratan halus di antara alisnya. Maniknya menatap kosong udara dan jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu di kantin kantor tempatnya bekerja.

Pekerjaannya sebagai anggota dari divisi marketing memang sedang sibuk-sibuknya kala perusahaan elektronik tempatnya bekerja baru saja meluncurkan produk baru yang bisa dibilang sukses besar. Namun bukan itu yang membuat pria itu gusar, melainkan mimpinya tadi pagi.

Konyol memang, jika seorang pria dewasa merasa gusar hanya karena sebuah mimpi yang seharusnya hanyalah bunga tidur. Namun, mimpi pria itu aneh. Pasalnya, ia telah memimpikan hal yang sama selama satu minggu belakangan dengan subjek yang sama pula, yaitu seorang gadis cantik bak malaikat yang tidak pernah Marcus kenal atau lihat sebelumnya.

Gadis itu selalu muncul dalam balutan dress putih, dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai seraya tersenyum ke arah Marcus dan mengulurkan tanggannya seperti ingin mengajak pria itu ke suatu tempat.

Mungkinkah itu adalah akibat dari imajinasinya yang berlebihan mengenai bertemu wanita cantik hingga terbawa mimpi? Mungkin efek dari film romantis yang ditontonnya baru-baru ini? Atau mungkin ini adalah pertanda dari Tuhan yang akan mengakhiri gelarnya sebagai jomblo abadi?

Sebuah tepukan di pundak membuat kesenangan Marcus akan kemungkinan ketiga seketika buyar. Pria itu mendesis tatkala menemukan wajah Spencer, rekan divisinya, dengan sengiran khasnya yang menunjukan gusi di atas giginya.

“Akan kutonjok kau jika ini bukan di kantor,”desis Marcus kesal.

Sengiran Spencer makin lebar dan makin menjengkelkan di mata Marcus. “Memang apa yang kau pikirkan? Hal-hal seperti itu sebaiknya kau pikirkan saat malam hari karena sensasinya akan berbeda. Kalau perlu aku punya majalah atau vi-“

Marcus membekap erat mulut Spencer. Ck, pria itu sama sekali tak membantu dengan pikiran-pikiran mesumnya itu.

“Ada apa?” tanya Marcus setelah melepaskan tangannya dari mulut Spencer. Kini, pria berambut cokelat itu telah duduk dihadapannya.

“Menurutmu? Ini kan jam makan siang.”

Kata-kata Spencer membuatnya tersadar akan semangkuk hobakjuk dingin di hadapannya. Pikiran tentang gadis di mimpinya itu bahkan mampu membuat Marcus mengabaikan makanan favoritnya. Meski tak seenak saat masih hangat, mau tak mau Marcus tetap harus memakannya.

“Mimpi itu lagi?” Tanya Spencer setelah menelan sesuap besar ramyeon ke dalam mulutnya. Marcus terkadang heran bagaimana mungkin pria itu mampu mencintai ramyeon  sama besar dengan cintanya terhadap wanita. Bahkan jumlah ramyeon di lemari makanannya sama banyak dengan jumlah majalah dan video dewasa di laptopnya.

“Ya,” jawab Marcus seraya mengangguk lemah.

“Jadi apa yang akan kau lakukan?”

Marcus terdiam. Maksud dari mimpi itu saja ia tak tahu. Tak ada yang bisa ia perbuat selain diam dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya.

Mengerti pikiran Marcus, Spencer berujar lagi, berusaha mengganti topik pembicaraan.

“Kudengar CEO Lee akan segera pensiun.”

“Oh, ya?” Ucap Marcus tak berminat.

“Mmm…” sahut Spencer seraya meminum kuah ramyeon langsung dari mangkuk.  “Dan anaknya lah yang akan menggantikannya. Ia lulusan universitas di Amerika dan baru saja menyelesaikan S2 nya. Bukankah ia jenius? Tapi kudengar anak direktur sangat angkuh dan keras. Jika kau berbuat kesalahan sedikit saja, maka…”

Spencer melakukan gestur memenggal kepala dengan tangannya yang membuat Marcus mau tak mau bergidik ngeri. Kehilangan pekerjaan adalah hal terakhir yang ia inginkan saat ini.

Tak! Spencer meletakkan mangkuk ramyeon yang telah kosong tak bersisa di meja.

“Nah, jadi tuan Cho,” ucap Spencer dengan alis yang terangkat sebelah. “Jika anda tak ingin dipecat, percepat makan siangmu, buang pikiran-pikiran anehmu, dan bekerjalah dengan giat.”

Setelahnya, pria itu berlari keluar kantin saat Kyuhyun mengangkat tangannya yang menggenggam sendok dan hendak memukul kepalanya dengan benda besi itu.

*****

Marcus kembali ke ruangannya setelah mengisi penuh perutnya dan membuang jauh-jauh pikiran tentang mimpi-mimpi itu agar dapat fokus bekerja. Di meja Spencer –tepat di samping mejanya, beberapa karyawan tengah berkumpul mengerumuni komputer. Beberapa karyawan bahkan ada yang berasal dari divisi lain.

“Hei, kemarilah. Kami sedang melihat foto anak CEO Lee,” ucap Spencer seraya mengibaskan tangannya. Tapi Marcus sama sekali tak tertarik. Jika mereka tahu bahwa ‘sang penerus’ itu dapat memecat siapapun dengan mudah, maka seharusnya mereka bekerja keras saat ini dan, hal itulah yang akan dilakukan Marcus sekarang.

Ia duduk di kursi hitam beroda yang telah menemaninya selama dua setengah tahun bekerja di sini. Digesernya mouse di samping komputernya dan seketika layar komputer yang tadinya hitam memunculkan data-data penting rekap penjualan produk terbaru perusahaan yang masih harus ia selesaikan.

Marcus mendesah. Meski sukses besar, penjualan produk belum mencapai target mereka. Jadi ia yakin sekali kerja keras mereka masih akan terus berlanjut.

“Lihat, pasti para wanita akan kagum melihatnya nanti.”

Samar-samar, Marcus dapat mendengar pembicaraan  para wanita dari meja Spencer.

“Ya, ya. Andai saja aku bisa memiliki satu yang seperti itu, aku akan sangat bahagia.”

“Lihat tubuhnya. Sangat bagus dan seksi. Ia pasti sering berolahraga.”

“Aku yakin dia sudah punya kekasih.”

“Hei, jangan bersedih karena dia.” Kali ini, si gombal Aiden yang berbicara. “Bagaimana jika malam ini kalian pergi bersamaku ke–”

BRAKK!

Seluruh orang di ruangan itu menatap Marcus dengan pandangan terkejut dan heran, tak terkecuali Marcus sendiri.

“K-kalian…” ucapannya tergagap lantaran terkejut dengan gebrakan mejanya sendiri yang terlampau keras dan atensi orang-orang sebagai akibatnya.

“Diam, atau kuhabisi kalian satu persatu,” desisnya, diikuti anggukan serentak dari teman-temannya. Setelah puas, ia pun duduk kembali  seraya mengibas-ngibaskan tanggannya yang sedikit sakit tatkala aksi memukul meja tadi.

Setelah menenangkan pikiran, jari-jarinya kembali memencet tombol-tombol keyboard  dengan licah agar tugasnya itu selesai lebih cepat.

*****

Marcus memutar-mutar kursi tempat ia duduk dengan bosan. Sudah setengah jam menunggu, tapi pria paruh baya berlabel CEO Lee itu tak kunjung nampak batang hidungnya. Kontras dengan karyawan lain yang sedang gencar bergosip seraya berbisik, tak terksecuali para lelaki. Marcus tak begitu mengenal calon bos barunya itu kecuali jenis kelaminnya yang merupakan pria berdasarkan percakapan para wanita beberapa hari lalu di meja Spencer. Jadi, ia tak begitu tertarik untuk turut serta dalam acara bergosip.

Hari ini, sang penerus perusahaan, putra dari CEO Lee, akan datang dan memperkenalkan diri. Itulah mengapa seluruh karyawan dari seri detiap divisi dikumpulkan di sini, di ruang meeting megah milik perusahaan yang biasa digunakan untuk rapat skala besar.

Semangatlah sedikit,Marcus Cho,bisik Spencer tepat di telinganya membuat Marcus spontan menjauhkan kepalanya.

“Kau gila, ya?”

Tak menggubris protes yang diluncurkan padanya, Spencer justru terkekeh pelan. “Kita kan akan bertemu penerus baru perusahaan ini. Kau tahu? Rupanya dia sebaya dengan kita.”

“Lalu?”

“Lalu?” ulang Spencer memastikan pendengarannya. “Tentu saja itu bagus. Kecuali jika kau pria abnormal, kau takkan tertarik padanya.”

Marcus mengerutkan kening. Bukankah justru pantas disebut abnormal jika ia tertarik pada putra CEO Lee? Baru saja ia akan bertanya pada Spencer mengenai maksud perkataanya, mendadak pintu kaca otomatis di ujung ruangan terbuka menandakan ada yang datang.

Sepersekian detik berikutnya, ruangan berubah sunyi bagai tak berpenghuni. Marcus sendiri turut diam seraya memutar otak untuk mencerna pernyataan Spencer.

Beberapa pria berjas beserta seorang wanita yang merupakan sekertaris CEO Lee masuk ke ruangan, diikuti sang CEO yang terlihat sumringah. Pria itu kemudian berdiri di belakang mimbar seraya memperbaiki letak mic yang terlampau tinggi. Marcus dapat merasakan seluruh mata yang memperhatikan setiap gerakan CEO dengan saksama.

“Ehem…” CEO Lee menatap para karyawannya dengan manik yang berbinar.

“Saya yakin, kalian semua sudah mengetahui alasan kalian berkumpul di sini. Seperti yang kalian lihat, saya sudah terlalu tua untuk melakukan tugas-tugas perusahaan yang cukup berat. Perusahaan ini…”

Kata-kata CEO Lee tak terdengar lagi oleh Marcus tatkala pria itu memang tak berniat mendengarnya. Ia selalu benci pidato-pidato pembuka yang dianggapnya buang-buang waktu dan tak pernah sekali pun menggerakan hatinya.

“Maka dari itu, di sini, di hadapan kalian semua, secara resmi saya perkenalkan anak tunggal saya, sekaligus penerus tunggal perusahaan, Kiera Lee.”

Seorang gadis memasuki ruangan diiringi tepuk tangan riuh seluruh orang di ruangan, tak terkecuali Marcus yang melongo keheranan. Seorang wanita? Pantas saja Spencer sangat bersemangat.

Marcus memperhatikan cara gadis itu berjalan memasuki ruangan.  Elegan dan penuh percaya diri. Tubuhnya dibalut pakaian-pakaian modis dan terbilang seksi –mini dress putih yang dipadukan dengan  cape blazer berwarna senada dan stiletto dengan beberapa aksesoris yang Marcus taksir senilai dengan gajinya selama setengah tahun. Ah, pantas saja para wanita itu iri. Pasti karena benda-benda seharga puluhan juta yang menempel di tubuh Kiera Lee.

Sebagian wajah gadis itu tertutup oleh rambutnya yang dicat cokelat gelap sehinnga Marcus tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

Namun ada sesuatu yang menggelitik hati Marcus, seolah-olah ada sesuatu antara dirinya dan Kiera. Tapi apa?

Setibanya di mimbar, Kiera berhenti dan memutar tubuhnya kedepan, menggantikan ayahnya yang kini berdiri di belakang. Gadis itu mengangkat wajahnya seraya menyesuaikan letak mic yang terlampau rendah.

Saat itulah, darah Marcus berdesir hebat, dan jantungnya memompa dengan kecepatan penuh. Maniknya menyipit berusaha memastikan apa yang dilihatnya.

Ya, tak salah lagi. Gadis yang tengah berdiri dihadapannya itu adalah gadis yang sama dengan yang ia lihat dalam mimpi. Meski perangai dan penampilan mereka berbeda, namun Marcus tak pernah lupa akan wajah yang selalu dilihatnya tiap malam.

“Bagaimana mungkin?” gumam Marcus seraya memiringkan kepala dan mengernyitkan kening –tanda ia sedang kebingungan.

“Iya, kan?” sahut Spencer. “Bagaimana mungkin CEO Lee, pria pendek berkepala botak itu memiliki putri yang sangat sempurna.”

Marcus tak menggubris sahabatnya.

Jadi, apa maksudnya ini? Melihat Kiera bagaikan menemukan potongan puzzle yang hilang. Dan kini, ia masih harus menemukan potongan-potongan puzzle lainnya.

Marcus terus menatap Kiera kala gadis itu mengucapkan kalimat-kalimat yang berisi rasa terima kasih, visi misi, atau apalah. Marcus tak peduli. Yang ia pedulikan adalah bagaimana tubuh gadis itu membentuk gestur-gestur yang anggun dan berkelas.

Ia berusaha menemukan setidaknya sedikit perbedaan pada wajah Kiera yang dapat mematahkan hipotesisnya mengenai gadis itu. Tetapi nihil.

Mungkinkah akan terjadi sesuatu antara dirinya dan Kiera? Tetapi melihat bagaimana perbedaan status sosial mereka –Marcus pemuda yang serba biasa dan berada di garis rata-rata, dan Kiera, gadis sempurna yang memiliki segalanya, memupuskan harapan Marcus akan kisah romansa yang mungkin terjadi di antara mereka.

Pikiran-pikiran Marcus mau tak mau terhenti saat manik Kiera tertuju padanya, mengerjap beberapa kali, lalu melanjutkan pidato singkatnya.

*****

Dentuman musik yang terlampau keras selalu menjadi hal yang yang dibenci Marcus. Alih-alih ikut meliuk-liukkan tubuh seperti yang dilakukan teman-temannya, Marcus lebih memilih duduk di meja bar, jauh dari kerumunan, sambil menikmati segelas bir  yang sebelumnya jarang ia konsumsi.

Entah setan apa yang merasukinya hingga ia mengiyakan begitu saja ajakan Spencer, Aiden, dan Matthew dan datang ke salah satu night club mahal di daerah Gangnam. Pikirnya, dengan datang ke sini ia dapat menghilangkan  keresahan yang beberapa hari belakangan mengganggu pikirannya –setidaknya, itulah yang dilakukan orang-orang.

Namun lautan manusia yang bergerak tanpa henti dan musik yang memekakan telinga justru membuatnya  sakit kepala. Kini, ia semakin yakin untuk tidak menginjakkan kaki di tempat seperti ini lagi lain waktu.

Mendadak, seorang wanita duduk di samping Marcus, membuat pria itu sedikit kesal lantaran masih banyak kursi kosong yang berderet di sepanjang bar dan sekarang ia sedang tak ingin diganggu.

John Walker and Sons Odyssey Scotch Whisky,” ucap gadis di sebelahnya dengan fasih, seolah telah berulang kali memesan merk wiski ribuan dollar itu.

Bartender yang tadinya sedang sibuk mengelap gelas-gelas kaca agak terkejut dengan kedatangan si gadis dan dengan sigap menyiapkan pesanannya.

Samar-samar, indra penciuman Marcus menangkap aroma parfum gadis itu. Aroma bunga lily. Hal itu mau tak mau membuat Marcus penasaran dengan gadis di sampingnya.

Melalui ekor matanya Marcus melirik sang gadis yang tengah meminum wiskinya dengan gaya yang sangat berkelas. Namun apa yang dilihatnya hampir saja membuat Marcus menyemburkan bir dari mulutnya. Alih-alih mengeluarkannya, Marcus menelan cairan itu secara paksa yang berakibat membuatnya tersedak dan terbatuk.

Gadis itu, Kiera Lee, berada tepat di sampingnya, di saat alasan utama pria itu ke ke sini adalah untuk melupakan gadis itu barang sejenak.

Mendadak, selembar tissue muncul di hadapan Marcus dan ia tahu betul perbuatan siapa. Dengan takut-takut, ia menerima tissue itu  seraya berterima kasih.

“Ah,” ucap Marcus pura-pura terkejut saat meihat Kiera. Sontak, ia berdiri hendak memberikan salam. Akan tetapi belum sempat niatnya itu terlaksana, Kiera mengibaskan tangannya, tanda bahwa Marcus tak perlu memberikan hormat.

Pria itu duduk kembali di kursinya. Untuk sesaat, mereka hanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya ada kesunyian di antara mereka, meski dentuman musik makin menjadi-jadi.

“Tidak ikut dengan dengan teman-temanmu?” Tanya Kiera membuka pembicaraan, yang lagi-lagi hempir membuat Marcus tersedak, seraya menatap kearah temannya-teman Marcus yang tengah menari dengan heboh dengan pandangan jijik.

“Umm… tidak.”

“Kenapa?”

“Saya tidak begitu suka menari,” jawab Marcus.

“Lalau kenapa ke sini?” pertanyaan Kiera seakan menohok Marcus. Otak pria itu mulai bekerja keras untuk memberikan jawaban selain “untuk melepas penat karenamu.”

“Ngomong-ngomong,” tambah Kiera. “Tidak perlu bicara formal denganku diluar kantor. Kita sebaya kan?”

Marcus hanya bisa memberikan tampang terbodoh yang ia punya sebagai respon. Sesaat kemudian, ia mengangguk. Pikirannya campur aduk, berusaha mencerna maksud dibalik permintaan Kiera.

“Saya –ah, maksudku aku ke sini karena dipaksa mereka,” jawab Marcus terdengar canggung.

Kiera menganggukan kepalanya. “sudah kuduga,” ucapnya. “Kau tahu? Aku cukup menyukaimu.”

Untuk kesekian kalinya, Marcus mengernyitkan dahi, namun kali ini disertai detakkan jantung yang  lebih kuat dan telinga yang memerah.

“Aku tahu bagaimana orang-orang, termasuk kalian memandangku. Wanita manekin yang serba mewah, sempurna, tapi angkuh.”

Marcus terdiam, tak tahu harus merespon apa dikala perkataan Kiera barusan mengandung seratus persen kebenaran.

“Para wanita selalu memujiku. Tapi aku tahu, dibelakang, mereka membicarakan segala kejelekanku yang bisa mereka dapatkan. Mereka iri. Aku tahu betul.”

Telunjuk gadis itu mengitari bibir gelas wiskinya yang hampir kosong.

“Dan pria-pria itu,” lanjutnya seraya melirik teman-teman Marcus. “Sama seperti pria-pria lainnya. Mereka selalu menatapku seakan-akan aku ini barang berharga senilai milyaran yang bisa didapatkan secara gratis.”

Kiera meminum wiskinya hingga habis, dan meletakkan gelas kosong itu dengan kasar. Ia lalu memberi tanda kepada bartender untuk mengisi ulang gelasnya.

“Aku hanya tak ingin kau salah paham. Meski penampilanku begitu, aku sama seperti gadis-gadis lainnya, kok. Ingin diharga –”

“Lalu kenapa penampilanmu tetap seperti itu?” Kiera tertegun atas pertanyaan Marcus kala pria itu tengah mengutuk mulutnya yang lancang lantaran rasa penasaran yang meluap-luap. Ia sudah siap kena damprat saat gadis di depannya mengendikan bahu.

“Untuk mendapat pengakuan mungkin?” ucapnya. “Dengan berpenampilan dan bersikap serba sempurna, aku merasa orang-orang mengakuiku dan tidak menganggap remeh.”

Kiera terdiam lagi, seolah sedang berpikir lebih dalam.

“Tapi kurasa awal dari semua ini adalah ayahku. Setelah ibu meninggal, entah mengapa ia selalu menuntutku untuk selalu tampil cantik dan bersikap bersikap layaknya orang berpendidikan.”

“Ia pasti memiliki alasan yang sama sepertimu. Agar kau selalu dihargai dan tidak dianggap sebelah mata oleh orang-orang. Kau tahu. Wanita kan biasanya dipandang begitu.”

Marcus memang terkejut, tapi ia juga terkesan dengan kata-kata yang barusan melucur keluar dari mulutnya. Terdengar bijak dan cerdas, dan berhasil membuat Kiera tertegun –lagi.

“Lihat kan? Sudah kuduga.” Ucap gadis itu setelah beberapa waktu.

“Apa yang sudah kau duga?”

“Kau ingat saat pertama kali aku datang ke perusahaan dan berpidato?” Marcus mengangguk.

“Saat itu aku melihatmu dengan tatapan yang errr… entahlah. Kagum? Tapi kau seolah sedang menyelidikiku. Awalnya kupikir kau seperti pria-pria lainnya. Tapi kemudian aku menyadari bahwa sikapmu berbeda. Kau menghormatiku –bukan hanya sebagai atasan, seperti teman-temanmu. Kalau mereka sih, pasti juga membicarakanku di belakang. Kau juga sepertinya pria yang simpel, bukan tipe penggoda.”

Marcus tahu ia harus merespon sesuatu, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Ia masih berusaha menemukan inti pembicaraan.

Kiera lalu melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya.

“Aku harus pulang,” katanya. “Senang berbincang denganmu. Aku jarang mengobrol seperti ini dengan orang lain.”

“Kau bisa menghubungiku kapan saja jika kau butuh,” ujar Marus cepat.

“Oh, ya?” Kiera lalu merogoh ponsel dari kantung celananya. “Kalau begitu berikan nomormu.”

“Ya?”

“Berikan nomormu,” ulang gadis itu seraya mengibaskan ponselnya di hadapan Marcus. “Kau bilang aku bisa menghubungimu kapan saja, kan?

“O-oh, tentu.”

Marcus lalu mengetikkan sebaris nomor di ponsel gadis itu, lalu menyerahkanya kembali.

“Marcus Cho, kan?” Tanya gadis itu seraya menuliskan nama pria itu di ponselnya.

“Baiklah Marcus-ssi. Sampai bertemu di kantor.”

Setelah tubuh Kiera menghilang di balik pintu, Marcus bernapas cepat, seolah telah menahan napas selama beberapa jam. Jantungnya berdetak cepat. Apa yang baru saja terjadi? Kiera Lee, CEO muda berbakat serba sempurna barus saja mengobrol dengannya dan gadis itu meminta nomor ponselnya!

Peristiwa tadi tentu belum menyelesaikan teka-teki puzzle nya. Marcus belum tahu hubungan apa yang akan terjadi antara dirinya dan Kiera. Yang ia tahu, semua ini akan berakhir baik!

End

Done! Sorry kalau jelek dan gaje karena author memulai ff ini dengan feel yang kuat tapi mengakhirinya dengan feel setengah-setegah, hiks. Sorry juga kalau banyak typo karena author buat ff ini sambil latian mengetik sepuluh jari (yang ternyata susah benget!). Semoga kalian tetep suka, yaaa

Jangan lupa COMMENT, ok?

ANYEONG! ^^

 

 

 

Advertisements

6 thoughts on “[Oneshoot] God’s Puzzle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s