[Chapter] Y(our) Love Story (Chapter 3)

muriva-bluff-embossed-brick-effect-wallpaper-j30309-p711-1303_image copy

Romance, school

_ _ _ _ _

Kyuhyun duduk di pinggiran meja sambil menunggu Minran memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

Pria itu tak habis pikir. Tergambar jelas di wajah Minran bahwa gadis itu sedang senang bukan kepalang. Kalau dia sedang senang, kenapa tadi ia menangis?

Kyuhyn menggelengkan kepalanya. Jalan pikir gadis itu memang tak mudah ditebak.

“Ayo!” ucap Minran sambil mengenakan ranselnya.

“Ayo, toko game sudah menungguku,” ujar Kyuhyun antusias.

“Eh?”

“Apa?”

“Ah, benar!” Minran menepuk jidatnya. “Maaf, ya, Kyu, sepertinya aku tidak bisa menemanimu. Aku harus ke aula sekolah sekarang.”

“Oh, ada urusan apa? Biar aku tunggu.”

“Tidak, jangan.” Minran menceritakan percakapannya dengan Yoongi dan Jungkook tadi.

Kyuhyun mengerutkan kening. “Tumben. Biasanya kan kau tidak mau repot.”

Minran mengangkat bahunya. “Entah, ya. Habis Yoongi yang meminta, sih. Lagipula, aku tak masalah bekerja keras kalau bisa sering-sering bertemu dia.”

“Ya, sudah,” Kyuhyun mengalah. Iya menjitak pelan kepala Minran. “Jangan patah hati lagi, ya.”

Minran hanya membalasnya dengan cengiran. Sejak Minran putus dengan kekasihnya tahun lalu, Kyuhyun jadi lebih protektif. Dia tidak melarang ini itu, sih. Hanya saja Kyuhyun selalu mengingatkannya untuk jangan patah hati.

Minran tidak pernah berjanji. Patah hati atau tidak, itu kan tergantung pria yang disukai Minran.

Tapi Minran sangat mengerti perasaan Kyuhyun. Dia senang bahwa pria itu mengkhawatirkannya, bahkan melebihi orang tuanya sendiri.

“Oke, aku duluan, ya.” Minran langsung melesat meninggalkan Kyuhyun. Min Yoongi, I’m coming!

Kyuhyun masih duduk di tempat yang sama, diam tak bergerak. Hanya saja pikirannya sedang berputar-putar. Ia cemburu.

“Arghh.”

Kyuhyun mengerang. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat,  berusaha untuk menghilangkan segala macam pikiran di benaknya. Jika harus memilih, ia lebih menyukai mengerjakan soal matematika sulit daripada menghadapi persoalan cinta. Terlalu rumit.

Semangatnya beberapa menit lalu habis tak bersisa.  Dengan berat hati, ia berdiri dan melangkah keluar.

Ia berjalan sambil dihantui berbagai macam pikiran buruk sampai-sampai ia tidak sadar bahwa kini ia telah berada di depan toko game.

Pria itu masih menimbang-nimbang. Haruskah ia masuk sekarang atau lain kali saja bersama Minran?

Ah, masuk saja lah.

Suara dentingan lonceng menyambutnya saat ia masuk. Aneh, seperti di café saja.

Tapi ia segera mengingat Minran. Gadis itu sangat suka suara dentingan bel saat memasuki café. Mungkin harusnya Kyuhyun datang kesini bersama Minran agar gadis itu juga bisa mendengar bunyi belnya.

Kyuhyun cukup terkesan dengan apa yang ada di dalam toko tersebut. Di dalamnya, banyak rak-rak yang berjejeran seperti di toko buku. Setiap rak penuh dengan berbagai macam video game. Selain itu, di dinding-dindingnya juga terdapat rak yang memajang berbagai handdeld dan console game, kabel-kabel, stick, dan lain-lain.

Toko itu terlihat biasa saja dari luar. Seluruh tembok luar terdiri dari kaca, hanya saja ditutupi oleh berbagai poster game. Setelah masuk, Kyuhyun merasa seperti di surga.

Kyuhyun melihat-lihat di bagian RPG. Di sampingnya, seorang pria juga sedang melihat-lihat. Pria itu mengenakan headphone dan tubuhnya menggeliat seolah mengikuti irama musik yang didengarnya.

Kyuhyun tidak ambil pusing. Matanya dengan cepat menelusuri tiap kaset yang ada di sana.

“Wow,” gumam Kyuhyun, berusaha menahan suaranya agar tidak terlalu keras. Ia menemukan sebuah kaset game terbaru yang sudah Kyuhyun incar beberapa hari lalu. Huh, sayang sekali ia sedang tidak membawa uang yang cukup.

Mungkin ia bisa pulang dan kemb-

“Aw!” Kyuhyun meringis kesakitan saat pria disampingnya tanpa sengaja menyiku perut bagian kirinya.

Pria tadi segera sadar dan cepat-cepat melepas headphone nya. “Ah, maaf,” ucapnya sambil agak membungkuk.

Namun Kyuhyun tidak menjawab. Lebih tepatnya, ia tidak mampu menjawab. Perut bagian kirinya terlalu sakit sampai-sampai ia ambruk ke lantai.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya pria itu agak khawatir. Ia juga bingung. Ia yakin tidak menyiku terlalu keras hingga Kyuhyun harus merasa sesakit itu.

Kyuhyun hanya menangkat tangannya dan menangguk, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Masih kebingungan, pria tadi segera mundur dan pergi dari situ.

Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Kyuhyun berusaha mengatur nafasnya yang tak menentu. Setelah beberapa saat, rasa sakitnya mereda dan Kyuhyun bisa berdiri lagi.

Untuk sekarang, Kyuhyun bersyukur Minran tidak ikut dengannya. Gadis itu pasti khawatir dan marah melihat Kyuhyun kesakitan seperti tadi. Ia menyingkap sedikit seragam sekolahnya hingga perut bagian kirinya terlihat.

Di sana, ada bekas jahitan. Lukanya memang telah tertutup, tapi sesekali masih terasa sakit jika terbentur atau mengenai sesuatu yang keras. Minran tentu tidak tahu. Yang gadis itu tahu, Kyuhyun sudah sembuh total.

Rasa sakit tadi seolah-olah telah membuka kenangan buruk, bukan hanya milik Kyuhyun, tapi juga Minran.

*

*

*

*

*

Kyuhyun duduk di lantai dengan sabar. Tangannya masih memegang kantong plastik berisi berbagai macam snack dan minuman kesukaan Minran.

Sesekali, tangannya mengetuk pintu di belakangnya.

“Minran, kau masih belum mau keluar?” ucap Kyuhyun. Tidak ada jawaban. “Terserah, ya. Aku akan tetap menunggu di sini.”

Malam semakin larut, tapi Kyuhyun tak memiliki niat sedikit pun untuk pergi dari tempatnya.

Kyuhyun memang tidak menyuarakannya, tapi sejak tadi ia telah memaki pria bernama Lee Taemin itu ribuan kali dalam hati.

Harusnya ia tahu pria itu bukan pria baik-baik. Baru berpacaran dengan Minran tiga bulan, ia sudah selingkuh. Belum lagi keparat itu berani memarahi dan memaki Minran di tempat umum.

Untung saja Kyuhyun yang mengantar Minran belum pergi. Gadis itu datang sambil terisak. Ia benar-benar terguncang. Sambil di bonceng, Minran memeluk erat Kyuhyun dan membenamkan wajahnya di punggung Kyuhyun untuk menangis.

Suara-suara kecil dapat terdengar. Langkah kaki dan gesekan kain sprei. Kyuhyun tidak dapat menebak dengan pasti apa yang dilakukan Minran di dalam, tapi ia lega. Setidaknya gadis itu masih hidup.

Beberapa menit setelahnya, sunyi. Kyuhyun berusaha menempelkan telinganya di pintu, tapi ia tak mendengar apa pun. Apakah gadis itu tidur? Entahlah. Tapi perasaan Kyuhyun tidak enak.

Dengan cepat ia berdiri dan melesat keluar, mengitari rumah hingga ke halaman belakang.

Oh, tidak.

Kyuhyun sungguh berharap Minran tidak melakukannya. Tapi ia melihat jalinan kain speri yang menggantung lewat jendela kamar Minran yang terbuka.

Dengan gesit, Kyuhyun memanjat pohon belimbing –yang sudah ia panjat berulang kali selama bertahun-tahun, masuk ke kamar Minran, dan mendapati gadis itu sudah tidak ada. Gadis itu kabur.

Hati Kyuhyun mencelus. Sekarang sudah hampir pukul 10 malam. Sangat berbahay bagi gadis itu untuk keluar malam-malam begini.

Tapi ia tidak boleh panik sekarang. Gadis itu pasti belum jauh.

Dengan sekali loncatan,Kyuhyun kembali mendarat di tanah. Ia memutar otaknya. Ke mana ia harus mencari?

Kyuhyun teringat sebuah tempat tak jauh dari sini.  Sambil berlalari,ia melesat menuju tempat itu.

Tak butuh waktu lama, Kyuhyun sampai. Taman itu terlihat sudah sepi. Hanya ada lampu-lampu taman kecil sebagai penerangan.

Ukuran taman itu tidak terlalu besar dan Kyuhyun sudah hafal seluk beluknya sehingga pria itu dapat mencari dengan mudah. Tapi Minran tidak ada di sana.

Dengan kalut, Kyuhyun mencari lebih jauh lagi.

“Ah!”

Telinga Kyuhyun menangkap suara yang dikenalnya. Ia cukup yakin itu suara Minran.

Jantungnya memacu dengan cepat. Adrenalinnya meningkat. Kyuhyun berusaha mengikuti arah suara, hingga ia tiba di sebuah gang sempit tak jauh dari taman.

Ia melihat beberap orang di sana, dan salah satunya adalah Minran. Gadis itu berbaring di aspal dengan lemah. Rambutnya terurai menutupi sebagian wajahnya yang basah, entah karena keringat atau air mata. Seorang pria terlihat meletakan kakinya di atas kaki Minran dan sesekali menendang-nendang gadis itu. Di sekelilingnya ada beberapa pria lain yang tertawa mengejek kea rah Minran. Dan salah satu pria itu adalah Taemin.

Amarah Kyuhyun memuncak. Darahnya seketika mengalir deras hingga ke ubun-ubun.

Dengan langkah cepat nan pasti, Kyuhyun melangkah kea rah gerombolan itu.

BUG!

Dengan sekali pukul, Kyuhyun berhasil menjatuhkan pria yang tadi menginjak Minran.

“Keparat, kau, sialan!” ucap Kyuhyun dengan tangan yang dikepalkan.

Tbc

Makasih udah baca! Jangan lupa COMMENT ya! Sorry kalau ada typo 😦

ANNYEONG! ^^

Advertisements

2 thoughts on “[Chapter] Y(our) Love Story (Chapter 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s